Harga Minyak Turun Tipis ke US$95, Pasar Cermati Eskalasi AS-Iran
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Harga minyak Brent berjangka turun 43 sen atau 0,45 persen menjadi US$95,20 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 24 sen atau 0,26 persen menjadi US$90,77 per barel.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Harga minyak mentah bergerak melemah pada perdagangan Kamis, 3 September 2026. Investor masih mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah. Harga minyak Brent berjangka turun 43 sen atau 0,45 persen menjadi US$95,20 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 24 sen atau 0,26 persen menjadi US$90,77 per barel.
Pergerakan harga minyak berlangsung di tengah ketidakpastian setelah kembali terjadi serangan militer antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut telah memasuki bulan ketujuh dan berisiko menekan distribusi minyak melalui jalur strategis di Timur Tengah.
Salah satu titik yang menjadi perhatian pasar adalah Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia. Gangguan lalu lintas kapal di kawasan tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap pasokan dan mendorong volatilitas harga energi.
Data awal perusahaan pelacak pelayaran Kpler menunjukkan hanya empat kapal pengangkut komoditas yang melintasi Selat Hormuz pada Rabu. Jumlah tersebut jauh di bawah rata-rata 10 hari terakhir yang berada di sekitar 13 kapal.
Namun, tekanan terhadap harga minyak sedikit mereda setelah muncul indikasi bahwa eskalasi terbaru mulai berkurang.
Analis IG Tony Sycamore menilai arus minyak melalui Selat Hormuz berpotensi kembali meningkat apabila situasi kembali kondusif. Pergerakan tersebut, kata dia, tetap bergantung pada perkembangan konflik berikutnya.
Di sisi lain, Amerika Serikat menyatakan sekitar 17 juta barel minyak melintasi Selat Hormuz pada Senin. Washington menyebut angka tersebut sebagai volume minyak mentah terbesar yang melewati jalur itu sejak perang AS-Israel terhadap Iran dimulai.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan operasi militer terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung terlalu lama. Perkembangan konflik selanjutnya kini menjadi perhatian investor karena dapat menentukan arah harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan.
- Penulis: say say
