Minyak Dunia Ambrol! Dari US$111 Kini Terseret ke US$92
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pompa minyak yang beraktivitas siang malam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat pagi (29/5/2026), memperpanjang tren penurunan tajam yang terjadi sepanjang pekan ini. Tekanan jual semakin kuat, menandai perubahan arah signifikan di pasar energi global.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.35 WIB, harga minyak jenis Brent sebagai acuan global berada di level US$92,74 per barel, turun dari posisi Kamis yang masih di US$93,71 per barel.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga ikut terkoreksi. Harganya kini berada di level US$87,8 per barel, melemah dibandingkan sehari sebelumnya di US$88,9 per barel.
Penurunan ini mempertegas gejolak besar di pasar minyak dalam dua pekan terakhir. Sebelumnya, pada 19 Mei 2026, harga Brent sempat menyentuh level tinggi US$111,28 per barel, sedangkan WTI mencapai US$107,77 per barel.
Namun dalam waktu kurang dari dua pekan, harga minyak mengalami koreksi tajam. Brent tercatat sudah anjlok hampir 17 persen, sementara WTI bahkan turun lebih dari 18 persen.
Pergerakan ekstrem ini mencerminkan perubahan sentimen pasar yang begitu cepat, dipengaruhi oleh berbagai faktor global. Mulai dari dinamika geopolitik hingga ekspektasi pasokan dan permintaan energi dunia.
Pelaku pasar kini mencermati perkembangan terbaru yang berpotensi mengubah arah harga minyak ke depan. Dengan volatilitas yang masih tinggi, pasar energi diperkirakan tetap bergerak fluktuatif dalam waktu dekat.
Penurunan tajam itu datang setelah pasar mulai percaya risiko perang Iran yang berlangsung hampir tiga bulan mulai mereda. Reuters melaporkan Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata sekaligus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz, meski kesepakatan final masih menunggu persetujuan Presiden AS Donald Trump.
Pasar sejak awal memusatkan perhatian pada Selat Hormuz karena jalur laut tersebut menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia serta pengiriman gas alam cair global. Selama konflik berlangsung, lalu lintas kapal di kawasan itu sempat menyusut drastis dan memicu lonjakan premi risiko geopolitik di pasar minyak.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua

