Israel Ancam Serang Iran di Selat Hormuz
- account_circle say say
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI. Kapal di Teluk dekat Selat Hormuz (REUTERS/Stringer)
JAMBISNIS.COM – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran menunjukkan kekuatan militernya di Selat Hormuz, sementara Israel mengancam akan melancarkan serangan baru yang disebut lebih mematikan. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran global terhadap stabilitas pasokan energi dunia.
Dalam laporan terbaru, Iran merilis video operasi militer yang memperlihatkan pasukan elite menaiki dan menguasai kapal kargo di wilayah perairan strategis tersebut. Teheran mengklaim tindakan itu sebagai bentuk penegakan kedaulatan maritim, terutama terhadap kapal-kapal yang dianggap melanggar aturan pelayaran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital distribusi energi global. Sekitar 20% pasokan minyak dunia melintasi wilayah ini, sehingga setiap gangguan berpotensi memicu lonjakan harga energi secara signifikan.
Ketegangan semakin meningkat setelah perundingan antara Iran dan Amerika Serikat mengalami kebuntuan. Presiden Donald Trump menyatakan tetap membuka peluang diplomasi, namun tidak menutup kemungkinan aksi militer jika negosiasi gagal.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menegaskan bahwa negaranya siap melancarkan serangan lanjutan terhadap Iran. Ia bahkan menyebut serangan berikutnya akan lebih agresif dan dapat menyasar target strategis, termasuk pimpinan tertinggi Iran.
Situasi ini turut diperparah oleh laporan aktivitas drone misterius di sejumlah wilayah Iran yang memicu respons sistem pertahanan udara. Hingga kini, belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas insiden tersebut.
Dampak dari eskalasi konflik ini langsung terasa di pasar global. Harga minyak mengalami fluktuasi tajam, sementara indeks saham di berbagai negara, termasuk Indonesia, mengalami tekanan. Ketidakpastian geopolitik membuat investor cenderung menghindari aset berisiko dan beralih ke instrumen yang lebih aman.
Selain itu, potensi gangguan distribusi energi juga berisiko meningkatkan biaya logistik global. Jika konflik terus berlanjut, dampaknya dapat merembet ke harga barang kebutuhan pokok di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Iran sendiri menegaskan tidak akan membuka kembali jalur negosiasi sebelum AS mencabut pembatasan terhadap kapal-kapalnya. Sementara itu, Washington tetap melanjutkan operasi pengawasan di jalur laut internasional, termasuk terhadap kapal tanker yang diduga membawa minyak Iran.
Pantau terus berita perkembangan ekonomi, saham, harga emas, dan harga sembako terkini secara cepat dan akurat di Jambisnis.com.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar