Kabut Asap Mulai Tekan Ekonomi Jambi, Omzet UMKM dan Pengunjung Pasar Terancam Turun
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Kualitas Udara semakin buruk, berdampak pada pelaku UMKM, omset turun dan pembeli berkurang.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan kesehatan dan lingkungan di Provinsi Jambi. Jika berlangsung lebih lama, kondisi tersebut berpotensi menekan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), pedagang pasar, hingga usaha kuliner.
Kekhawatiran itu muncul seiring masih tingginya aktivitas karhutla di sejumlah wilayah Jambi. Data Polda Jambi mencatat hingga 24 Agustus 2026 terdapat 253 hotspot dalam pemantauan harian. Secara kumulatif sejak awal tahun, tercatat 4.064 hotspot dengan estimasi luas area terbakar sekitar 916,26 hektare.
Di sisi lain, kualitas udara Kota Jambi memang mulai membaik. ISPU terbaru yang terverifikasi berada di angka 96 atau kategori sedang pada 27 Agustus pukul 16.00 WIB. Namun, sehari sebelumnya angka tersebut masih 120 atau kategori tidak sehat. Pemkot Jambi bahkan sempat meliburkan kegiatan belajar tatap muka pada 26–28 Agustus akibat memburuknya kualitas udara.
Bagi UMKM, kondisi udara buruk dapat memengaruhi pola belanja masyarakat. Ketika warga mengurangi aktivitas di luar rumah, potensi kunjungan ke pasar, warung makan, kedai kopi, pusat kuliner, serta pedagang kaki lima ikut terpengaruh.
Dampaknya bukan hanya pada jumlah pengunjung, tetapi juga berpotensi menekan omzet harian pedagang. Konsumen yang biasanya berbelanja langsung dapat memilih mengurangi perjalanan atau membeli kebutuhan dalam jumlah lebih sedikit.
Gambaran mengenai tekanan terhadap aktivitas perdagangan sebelumnya terlihat di Pasar Kramat Tinggi, Batanghari. Pedagang mengeluhkan penurunan jumlah pembeli dan omzet. Kondisi pasar disebut lebih sepi dibandingkan sebelumnya, termasuk pada hari yang biasanya ramai.
Karhutla juga berpotensi mengganggu rantai ekonomi yang lebih luas. Ketika aktivitas masyarakat berkurang, sektor transportasi, kuliner, perdagangan harian, hingga jasa dapat ikut terdampak.
Pemerintah Provinsi Jambi sendiri telah mengingatkan bahwa karhutla tidak hanya berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan, tetapi juga stabilitas ekonomi daerah. Hingga 23 Agustus, luas karhutla Jambi tercatat 658,29 hektare.
Karena itu, pelaku UMKM perlu mengantisipasi kondisi tersebut dengan memperkuat penjualan daring, layanan pesan antar, serta promosi melalui media sosial. Langkah tersebut dapat menjadi alternatif ketika jumlah pengunjung langsung mengalami penurunan akibat kabut asap.
Sumber: Polda Jambi, Pemkot Jambi, Pemprov Jambi, ANTARA, dan data pemantauan kualitas udara.
- Penulis: say say
