Bursa Asia Melemah, Kekhawatiran Biaya AI Tekan Saham Teknologi Global
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Kam, 5 Feb 2026
- comment 0 komentar

ILUSTRASI/FOTO
JAMBISNIS.COM – Pasar saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (5/2/2026) seiring meningkatnya kewaspadaan investor terhadap lonjakan biaya investasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang membebani sektor teknologi global. Tekanan terjadi di tengah aksi jual saham teknologi dunia, meski kontrak berjangka Wall Street mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan berkat penguatan saham produsen chip.
Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang tercatat turun sekitar 1%. Bursa Korea Selatan menjadi salah satu yang tertekan, dengan indeks KOSPI melemah 1,7%. Sementara itu, pasar saham Taiwan terkoreksi 0,7%, dan indeks Nikkei Jepang bergerak relatif datar.
Di China, saham unggulan turun 0,7%, sedangkan indeks Hang Seng Hong Kong melemah 0,8%.
Sentimen pasar turut dipengaruhi laporan keuangan Alphabet yang dirilis setelah penutupan perdagangan. Meski mencatatkan kinerja solid, rencana belanja modal (capital expenditure/capex) Alphabet sebesar US$175 miliar hingga US$185 miliar pada tahun ini memicu volatilitas saham.
Saham Alphabet sempat anjlok lebih dari 6% sebelum akhirnya ditutup turun tipis 0,4% pada perdagangan setelah jam bursa.
Investor global juga mulai melakukan rotasi dari saham-saham teknologi berkapitalisasi besar ke saham siklikal, di tengah kekhawatiran bahwa perkembangan AI berpotensi mengganggu pasar tenaga kerja dan menekan valuasi sektor teknologi.
Aksi jual yang dipicu peluncuran alat hukum berbasis model bahasa besar Claude milik Anthropic dilaporkan telah menghapus sekitar US$830 miliar kapitalisasi pasar sejak akhir Januari.
Tekanan pasar kian terasa setelah kinerja Advanced Micro Devices (AMD) mengecewakan. Saham produsen chip tersebut anjlok sekitar 17% pada perdagangan semalam.
“Lonjakan belanja modal Alphabet benar-benar sangat besar,” ujar analis IG, Tony Sycamore. Menurutnya, di tengah sensitivitas pasar terhadap valuasi AI dan belanja modal, reaksi negatif sebenarnya berpotensi lebih luas.
Di sisi lain, permintaan belanja peralatan mendorong saham Nvidia menguat hampir 2% setelah penutupan perdagangan, sehingga memangkas sebagian penurunan sebelumnya. Penguatan Nvidia turut mengangkat kontrak berjangka Nasdaq sekitar 0,6% dan S&P 500 sebesar 0,4%.
Pelaku pasar kini menantikan laporan keuangan Amazon serta keputusan kebijakan moneter Bank of England dan Bank Sentral Eropa (ECB), yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Di pasar mata uang, yen Jepang melemah untuk hari keempat berturut-turut menjelang pemilihan umum akhir pekan ini. Jajak pendapat menunjukkan peluang kemenangan besar bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi yang dikenal mendukung kebijakan belanja besar, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kondisi fiskal Jepang.
Sementara itu, harga minyak dunia turun setelah mencatatkan kenaikan dua hari beruntun. Minyak mentah WTI turun ke kisaran US$64 per barel, sedangkan Brent melemah ke sekitar US$68 per barel.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar