Sudah Didera Masalah Kualitas Industri, Saham Airbus Anjlok 10 Persen
- account_circle -
- calendar_month Sel, 2 Des 2025
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Perusahaan pembuat pesawat raksasa, Airbus, mengonfirmasi masalah kualitas industri yang memengaruhi panel logam pada sejumlah pesawat A320.(F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Perusahaan pembuat pesawat raksasa, Airbus, mengonfirmasi mereka menemukan masalah kualitas industri yang memengaruhi panel logam pada sejumlah pesawat A320. Menurut laporan Reuters yang dikutip pada Selasa (2/12/2025), kabar tersebut menambah tantangan terbaru bagi Airbus setelah penarikan kembali pesawatnya untuk pembaruan perangkat lunak (software) akhir pekan lalu.
Diluar dugaan, saham Airbus anjlok hingga 10 persen di awal perdagangan pekan ini. Mempercepat kerugian awal karena masalah kualitas industri menutupi dampak keputusan perusahaan untuk menangguhkan ribuan jet A320 demi pembaruan software. Saham kemudian melemah 5,6% pada pukul 20.45 WIB waktu Paris.
Dalam pernyataan yang dikirim melalui surel, seorang juru bicara Airbus menyatakan perusahaan sedang memeriksa semua pesawat yang berpotensi terdampak dan hanya sebagian kecil dari pesawat tersebut yang memerlukan tindakan lebih lanjut.
“Sumber masalah telah diidentifikasi, ditangani, dan semua panel yang baru diproduksi telah memenuhi semua persyaratan,” kata juru bicara tersebut dikutip Investor, Selasa (2/12/2025).
Juru bicara menambahkan masalah ini berasal dari pemasok, namun menolak menyebutkan namanya. Airbus diketahui memiliki pemasok internal maupun eksternal untuk struktur pesawatnya.
Masalah ini muncul saat Airbus tengah berupaya keras untuk memenuhi target pengiriman yang ambisius tahun ini. Cacat produksi yang dicurigai ini menyebabkan penundaan beberapa pengiriman, meskipun belum ada indikasi masalah ini telah menjangkau pesawat yang sudah beroperasi.
Menurut sumber industri, Airbus dilaporkan hanya mengirimkan 72 pesawat pada November 2025, lebih rendah dari ekspektasi analis, sehingga total pengiriman tahun ini sejauh ini mencapai 657 unit.
Airbus menargetkan sekitar 820 kali pengiriman untuk tahun ini. Ini berarti mereka harus mencapai kinerja rekor pengiriman lebih dari 160 jet pada Desember 2025, jauh melampaui rekor akhir tahun sebelumnya yaitu 138 unit pada 2019.
Para analis berbeda pendapat mengenai apakah pembuat pesawat terbesar di dunia ini akan mampu mencapai target pengiriman tersebut, mengingat pendapatan dan arus kas perusahaan sangat bergantung pada pengiriman tepat waktu.
Analis Jefferies, Chloe Lemarie, menilai kinerja November 2025 lebih lemah dari yang diperkirakan dari proyeksi awalnya 71 pengiriman. Namun ia yakin target masih dapat dicapai karena produksi dasar meningkat.
Analis independen Rob Morris memperkirakan Airbus bisa mencapai sekitar 800 pengiriman, yang mungkin cukup untuk mengklaim target tercapai berdasarkan formulasi perkiraan mereka, meskipun ada risiko hasil akhir akan sedikit lebih rendah.
Masalah kualitas terbaru yang dihadapi Airbus, bersamaan dengan penarikan software sebelumnya, menyoroti tekanan luar biasa yang dialami oleh seluruh rantai pasokan industri kedirgantaraan pasca pandemi. Untuk memenuhi permintaan global yang booming setelah pembatasan perjalanan dicabut, Airbus berusaha keras meningkatkan laju produksi.
Namun, upaya percepatan ini sering kali menciptakan celah yang dapat memunculkan masalah kualitas industri, seperti yang terjadi pada panel logam A320. Gangguan dari pemasok, bersama dengan tantangan logistik dan kekurangan tenaga kerja, menjadi hambatan struktural yang berulang.
Kegagalan mencapai target pengiriman yang ambisius tidak hanya memengaruhi pendapatan Airbus karena maskapai membayar sebagian besar nilai pesawat pada saat serah terima, tetapi juga menunda ekspansi armada maskapai di seluruh dunia.(*)
- Penulis: -

Saat ini belum ada komentar