Uang Beredar Naik ke Rp 2.152 Triliun, Tanda Ekonomi Indonesia Makin Pulih
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Ming, 26 Okt 2025
- comment 0 komentar

Petugas menghutung uang pecahan 100 ribu
JAMBISNIS.COM – Bank Indonesia (BI) mencatat jumlah uang beredar dalam arti sempit atau base money (M0) pada September 2025 mencapai Rp 2.152,4 triliun, meningkat 18,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Kenaikan tajam ini menjadi sinyal positif bahwa aktivitas ekonomi nasional terus membaik di tengah berbagai stimulus dan peningkatan investasi.
Sebelumnya, pada Agustus 2025, pertumbuhan uang beredar hanya mencapai 7,3 persen yoy dengan nilai Rp 1.961,3 triliun. Artinya, terjadi percepatan signifikan dalam perputaran uang di masyarakat dalam satu bulan terakhir.
Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai lonjakan uang beredar dipicu oleh beberapa faktor utama.
“Yang pertama karena di kuartal ketiga kemarin, investasi asing langsung (Foreign Direct Investment atau FDI) mengalami peningkatan cukup besar, dan investasi secara umum juga naik. Hal ini berpengaruh langsung pada jumlah uang yang beredar di masyarakat,” ujar Yusuf kepada kumparanBISNIS, Sabtu (25/10).
Selain dari investasi, penyaluran kredit perbankan juga menjadi faktor penting. Pertumbuhan penyaluran kredit yang mencapai sekitar Rp 200 triliun menambah likuiditas di pasar, sehingga uang yang berputar di perekonomian semakin besar.
“Kalau kita lihat, bank pada September juga mencatatkan pertumbuhan kredit, meskipun tidak seluruhnya berasal dari stimulus Rp 200 triliun,” tambahnya.
Yusuf menilai peningkatan belanja pemerintah pada kuartal III 2025 turut memperkuat dorongan terhadap pertumbuhan uang beredar. “Ini capaian yang patut diapresiasi, terutama karena dapat mendukung momentum pertumbuhan ekonomi di kuartal IV nanti,” ujarnya.
Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan kenaikan uang beredar tidak lepas dari kebijakan moneter longgar (loose money policy) yang diterapkan Bank Indonesia.
“Penurunan suku bunga acuan mendorong peningkatan penyaluran kredit oleh perbankan. Sementara dari sisi fiskal, penempatan dana pemerintah sebesar Rp 200 triliun juga mempercepat pertumbuhan uang beredar,” jelasnya.
Meski begitu, Eddy mengingatkan bahwa efek nyata dari kebijakan ini belum sepenuhnya terasa di sektor riil karena masih menunggu efek pengganda (multiplier effect).
“Sisi positifnya, bisnis akan tumbuh karena lebih mudah mengakses pembiayaan, konsumsi domestik meningkat, dan ekonomi terpacu. Namun, sisi negatifnya potensi inflasi bisa ikut naik,” katanya.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengatakan peningkatan jumlah uang beredar mencerminkan aktivitas ekonomi yang semakin bergairah.
“Uang primer (M0) adjusted pada September 2025 tumbuh 18,6 persen yoy, lebih tinggi dibandingkan 7,3 persen yoy pada bulan sebelumnya,” ungkap Denny dalam keterangannya, Kamis (23/10).
Menurut BI, pertumbuhan ini mencerminkan penguatan sisi permintaan masyarakat seiring dengan pulihnya daya beli, peningkatan investasi, dan stabilnya inflasi di level terkendali.
Dengan tren pertumbuhan uang beredar yang kuat, para ekonom optimistis perekonomian nasional akan tumbuh lebih baik pada kuartal IV 2025. Kombinasi kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif diharapkan bisa menjaga momentum pemulihan, terutama di sektor konsumsi dan investasi. Namun, pemerintah dan Bank Indonesia diminta tetap waspada terhadap potensi kenaikan inflasi akibat meningkatnya likuiditas di pasar.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar