Saratoga Milik Sandiaga Uno Rugi Rp2,43 Triliun di Kuartal III/2025, Ini Penyebabnya
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Sel, 4 Nov 2025
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Emiten milik Sandiaga Uno dan Edwin Soeryadjaya, yakni PT Saratoga Investama Sedaya Tbk. (SRTG), mencatatkan rugi bersih sebesar Rp2,43 triliun pada kuartal III/2025. Kinerja ini berbalik arah dari laba bersih sebesar Rp5,21 triliun yang diraih pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kerugian Saratoga terjadi akibat penurunan nilai investasi saham dan efek lainnya yang mencapai Rp4,3 triliun per kuartal III/2025. Padahal, pada kuartal III/2024, perusahaan masih mencatatkan keuntungan investasi senilai Rp5,02 triliun.
Sebagian besar kerugian berasal dari portofolio saham blue chip dengan nilai sekitar Rp3 triliun, serta dari investasi di sektor teknologi digital sebesar Rp296,86 miliar.
Sementara itu, investasi SRTG di perusahaan berkembang masih mencatatkan penghasilan Rp206,08 miliar, dan dari investasi lain-lain sebesar Rp198,94 miliar.
Saratoga memiliki total investasi di saham blue chip senilai Rp41,48 triliun, di antaranya PT Tower Bersama Infrastructure Tbk. (TBIG), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Alamtri Resources Indonesia Tbk. (ADRO), dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI).
Adapun nilai investasi pada perusahaan berkembang mencapai Rp6,67 triliun, dengan portofolio mencakup PT Mitra Pinasthika Mustika Tbk. (MPMX), PT Samator Indo Gas Tbk. (AGII), dan PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA).
Pendapatan dividen dan bunga SRTG juga menurun 15,33% year-on-year (YoY) menjadi Rp1,4 triliun, dibandingkan Rp1,66 triliun pada kuartal III/2024.
Akibatnya, SRTG mencatatkan rugi sebelum pajak Rp3,2 triliun, berbalik dari laba Rp6,36 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Dari sisi neraca, Saratoga memiliki total aset Rp52,84 triliun dan liabilitas Rp3,68 triliun per 30 September 2025, dengan ekuitas mencapai Rp49,16 triliun.
Meski mencatatkan kerugian, Saratoga tetap menjadi salah satu grup investasi terbesar di Indonesia dengan portofolio kuat di berbagai sektor strategis, seperti energi, infrastruktur, dan teknologi.
Manajemen menyatakan akan terus melakukan evaluasi dan optimalisasi portofolio investasi untuk menjaga kinerja jangka panjang.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar