Hampir 50% BUMN Rugi, Danantara Siapkan Pemangkasan dari 1.000 Jadi 200
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Jum, 14 Nov 2025
- comment 0 komentar

Managing Director Non-financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, saat Coffee Morning Danantara, Jumat (14/11/2025).
JAMBISNIS.COM – Danantara Indonesia memastikan rencana besar memangkas jumlah BUMN dari sekitar 1.000 perusahaan menjadi hanya 200. Langkah ini dinilai mendesak karena hampir setengah perusahaan pelat merah tersebut mengalami kerugian dan dinilai tidak lagi relevan dengan kebutuhan saat ini. Managing Director Non-financial Holding Operasional Danantara, Febriany Eddy, menjelaskan bahwa pemangkasan besar-besaran ini merupakan bagian dari 21 program strategis yang diprioritaskan Danantara pada tahun 2025. Program tersebut fokus pada restrukturisasi perusahaan agar lebih efisien dan berdaya saing.
“Yang 21 ini dipilih karena paling urgent. Kalau restrukturisasi tidak dilakukan tahun ini, tahun depan akan lebih sulit,” ujar Febriany dalam acara Coffee Morning, Jumat (14/11).
Febriany menyebut Presiden Prabowo Subianto telah meminta Danantara untuk memangkas jumlah BUMN, termasuk anak usaha dan cucu usaha, dari lebih dari 1.000 menjadi hanya 200 perusahaan inti.
Menurutnya, kerugian yang dialami banyak BUMN bukan hanya akibat kondisi bisnis, tetapi juga kesalahan manajemen masa lampau. Ia mencontohkan satu proyek yang dikerjakan oleh 4–5 anak usaha sekaligus, sehingga margin keuntungan habis karena kebocoran dan biaya berlapis.
“Anak per anak itu leakage-nya banyak. Kerjaan yang bisa lewat satu perusahaan, malah lewat lima perusahaan. Margin hilang di situ,” tegasnya.
Ia menilai pola kerja seperti itu harus dihilangkan. Anak usaha yang tidak membawa manfaat, tumpang tindih, atau dibuat tanpa landasan bisnis yang jelas akan dikonsolidasi atau dilikuidasi.
Banyak BUMN juga diketahui saling bersaing secara tidak sehat, termasuk dalam perebutan proyek tender. Bukannya bersinergi, mereka justru saling mematikan satu sama lain.
“Hal seperti itu sangat tidak sehat, enggak make sense. Kita saling membunuh di dalam,” kata Febriany.
Setelah penyederhanaan bisnis selesai, Danantara berencana melakukan privatisasi terhadap beberapa sektor yang dinilai tidak perlu dikelola langsung oleh negara. Namun, Febriany menegaskan bahwa privatisasi bukan berarti penjualan besar-besaran tanpa nilai.
“Privatisasi bukan fire sale. Kita harus monetisasi dengan value yang baik,” jelasnya.
Danantara juga akan menggandeng swasta untuk memperkuat fundamental bisnis, transfer teknologi, dan mempercepat transformasi.
Dengan transformasi besar ini, Danantara berharap hanya akan menyisakan 200 perusahaan terbaik, berfokus pada sektor yang tepat, ukuran yang ideal, serta memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat Indonesia.
“Dari 1.000 ke 200, harapan kami perusahaan yang tersisa benar-benar the right sector, the right size, dan memberi value ke Indonesia,” ujarnya menutup pernyataan.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar