Ekonomi Iran Porak Poranda: Inflasi Tinggi, Nilai Tukar Rial Anjlok, Harga Pangan Melonjak
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Kam, 15 Jan 2026
- comment 0 komentar

Warga Iran berjalan di samping papan reklame bertuliskan Iran Tanah Air Kami di Lapangan Enqelab di Teheran, Iran, 13 Januari 2026.
JAMBISNIS.COM – Kondisi ekonomi Iran kian memburuk dalam beberapa bulan terakhir. Tingginya inflasi, anjloknya nilai tukar mata uang rial, serta melonjaknya harga kebutuhan pokok membuat daya beli masyarakat tertekan dan memicu gelombang protes di berbagai kota.
Tekanan ekonomi tersebut diperparah oleh kejatuhan nilai tukar rial yang sangat drastis. Data menunjukkan, pada pertengahan Desember 2025, nilai tukar masih berada di kisaran 42.000 rial per dolar AS. Namun kini, mata uang Iran itu melemah tajam hingga menembus lebih dari 1,1 juta rial per dolar AS, bahkan sempat menyentuh rekor terendah di level 1,4 juta rial per dolar AS.
Kondisi ini membuat barang impor menjadi hampir tidak terjangkau bagi masyarakat. Secara domestik, situasinya juga tidak jauh lebih baik karena lonjakan harga pangan dan kebutuhan sehari-hari terus terjadi.
Iran sebenarnya telah lama bergulat dengan inflasi tinggi. Namun dalam 12 bulan terakhir, tekanan inflasi melonjak signifikan. Inflasi tercatat naik dari 31,8 persen pada Januari 2025 menjadi 48,6 persen pada Oktober 2025, berdasarkan data Pusat Statistik Iran. Sementara pada Desember 2025, inflasi masih berada di kisaran di atas 42 persen.
Data Bank Dunia juga menunjukkan bahwa inflasi tahunan Iran pada 2024 melampaui 32 persen, menempatkan negara tersebut dalam jajaran negara dengan inflasi tertinggi di dunia. Sejak 2008, Iran hanya mencatat inflasi di bawah 25 persen dalam beberapa tahun saja, menandakan masalah struktural yang belum terselesaikan.
Krisis ekonomi ini berdampak langsung pada stabilitas sosial. Penurunan tajam nilai mata uang dan kenaikan harga pangan memicu kemarahan publik, yang kemudian berujung pada aksi demonstrasi besar-besaran. Pemerintah Iran merespons dengan langkah pengamanan ketat, seiring meningkatnya tekanan terhadap rezim.
Para pengamat menilai, tanpa reformasi ekonomi yang menyeluruh dan perbaikan hubungan internasional, tekanan terhadap perekonomian Iran berpotensi terus berlanjut. Jika tidak ditangani, krisis ini dikhawatirkan akan semakin memperdalam ketidakstabilan sosial dan politik di negara tersebut.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar