Bukan Hotel Mewah, Hotel Bintang 3 Paling Ramai di Jambi pada Juli 2026
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Dari sisi jumlah tamu, hotel bintang tiga juga mencatat 28.104 tamu. Angka tersebut terdiri atas 27.953 wisatawan nusantara dan 151 wisatawan mancanegara. Sebagai pembanding, hotel bintang empat dan lima mencatat 14.688 tamu, sedangkan hotel bintang dua menampung 13.491 tamu. Hotel bintang satu hanya mencatat 2.800 tamu.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Hotel dengan kelas menengah justru mencatat tingkat penghunian kamar tertinggi di Provinsi Jambi pada Juli 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel bintang tiga mencapai 58,40 persen. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibandingkan kelas hotel lainnya.
Hotel bintang dua berada di posisi berikutnya dengan TPK 46,51 persen. Sementara gabungan hotel bintang empat dan lima mencapai 53,57 persen. Adapun hotel bintang satu mencatat TPK paling rendah, yakni 29,24 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa tingginya kelas hotel tidak otomatis berarti tingkat okupansinya paling tinggi. Hotel bintang tiga justru menjadi pilihan terbesar dalam tingkat keterisian kamar selama Juli.
Dari sisi jumlah tamu, hotel bintang tiga juga mencatat 28.104 tamu. Angka tersebut terdiri atas 27.953 wisatawan nusantara dan 151 wisatawan mancanegara. Sebagai pembanding, hotel bintang empat dan lima mencatat 14.688 tamu, sedangkan hotel bintang dua menampung 13.491 tamu. Hotel bintang satu hanya mencatat 2.800 tamu.
Kinerja hotel bintang tiga juga terlihat dari durasi menginap. Rata-rata lama menginap tamu di kelas hotel tersebut mencapai 1,71 hari, menjadi yang tertinggi pada Juli.
Namun, secara keseluruhan bisnis hotel berbintang masih menghadapi tekanan. TPK seluruh hotel turun menjadi 52,59 persen dari 57,37 persen pada Juni.
Penurunan itu terjadi bersamaan dengan berkurangnya jumlah tamu dari 61.269 orang menjadi 58.932 orang.
Bagi industri perhotelan, data ini memberikan gambaran menarik tentang perilaku pasar. Konsumen tidak semata-mata mencari fasilitas paling mewah, tetapi juga mempertimbangkan harga, lokasi, aksesibilitas dan kebutuhan perjalanan.
Kondisi tersebut dapat menjadi pertimbangan bagi pengusaha hotel dalam menentukan strategi bisnis. Di tengah persaingan, kombinasi harga kompetitif, fasilitas memadai dan lokasi strategis dapat menjadi faktor penting untuk menjaga okupansi.
Sementara bagi pemerintah daerah, data ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata perlu diarahkan tidak hanya pada peningkatan jumlah kunjungan, tetapi juga memperpanjang lama tinggal wisatawan agar dampak ekonominya semakin besar.
- Penulis: say say
