Dari Pasar hingga Kuliner, Apa yang Membuat Konsumen Batang Hari Mau Belanja?
- account_circle say say
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

Ketika masyarakat berbelanja, aktivitas perdagangan, kuliner, transportasi hingga jasa ikut bergerak. Karena itu, memahami daya beli dan kebutuhan konsumen menjadi penting bagi pelaku usaha.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Konsumsi masyarakat menjadi salah satu penggerak utama ekonomi Kabupaten Batang Hari. Ketika masyarakat berbelanja, aktivitas perdagangan, kuliner, transportasi hingga jasa ikut bergerak. Karena itu, memahami daya beli dan kebutuhan konsumen menjadi penting bagi pelaku usaha.
Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Batang Hari mencatat ekonomi daerah tumbuh 5,21 persen pada 2025, setelah tumbuh 3,42 persen pada 2024. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menyumbang 41,89 persen terhadap PDRB dan tumbuh 4,43 persen. Komponen tersebut menjadi sumber pertumbuhan terbesar dengan kontribusi 1,95 persen. BPS mengaitkan kondisi tersebut dengan meningkatnya daya beli masyarakat.
Besarnya aktivitas konsumsi juga tercermin dari pengeluaran masyarakat. Data BPS Provinsi Jambi berdasarkan Susenas Maret 2025 menunjukkan rata-rata pengeluaran per kapita penduduk Batang Hari mencapai Rp1,38 juta per bulan, terdiri atas Rp726.867 untuk makanan dan Rp650.643 untuk kebutuhan bukan makanan. Data tersebut dirilis dan diperbarui BPS pada 2026.
Memasuki 2026, stabilitas harga kebutuhan pokok menjadi faktor penting dalam menjaga ruang belanja masyarakat. Di Pasar Kramat Tinggi, Muara Bulian, pemerintah daerah melakukan pemantauan harga secara rutin. Pada Juli 2026, beras medium berada di sekitar Rp13.000 per kilogram, beras premium Rp15.400, sedangkan beras SPHP Rp12.200.
Sebelumnya, pada Juni 2026, Disdagkop UKM Batang Hari juga memastikan stok bahan pokok di pasar tersebut mencukupi. Harga sejumlah komoditas bahkan mengalami penurunan, seperti cabai merah yang berada di kisaran Rp40.000–Rp45.000 per kilogram.
Pemerintah Kabupaten Batang Hari turut melakukan intervensi melalui operasi pasar. Pada Maret 2026, Pemkab bersama instansi terkait menyatakan harga kebutuhan pokok di Pasar Kramat Tinggi masih kondusif menjelang Idul Fitri.
Dari sisi ekonomi makro, Batang Hari masih menunjukkan pertumbuhan. BPS mencatat ekonomi daerah pada triwulan I 2026 tumbuh 4,52 persen secara tahunan, dengan PDRB atas dasar harga konstan mencapai Rp3,81 triliun.
Kondisi tersebut menciptakan peluang sekaligus persaingan. Pertumbuhan UMKM, terutama kuliner dan makanan-minuman, menunjukkan bahwa kebutuhan konsumsi sehari-hari masih menjadi pasar yang menarik. Namun, banyaknya pelaku usaha membuat konsumen memiliki semakin banyak pilihan.
Karena itu, harga bukan satu-satunya penentu keputusan membeli. Lokasi, kualitas, rasa, pelayanan, kenyamanan, variasi produk dan kemudahan transaksi menjadi bagian dari pengalaman konsumen.
Bagi pelaku usaha di Batang Hari, pertanyaannya bukan lagi sekadar “apa yang bisa dijual?”, tetapi “apa yang benar-benar dibutuhkan konsumen, di mana mereka berkumpul, dan berapa kemampuan mereka untuk membelinya?”
Di tengah pertumbuhan ekonomi dan aktivitas perdagangan, pengusaha yang mampu membaca pola konsumsi akan memiliki keunggulan lebih besar dibandingkan mereka yang hanya mengikuti tren.
- Penulis: say say
