Ekonomi Tanjab Timur Masih Ditopang Tambang dan Pertanian
- account_circle say say
- calendar_month Senin, 5 Okt 2026
- print Cetak

Di Tanjung Jabung Timur, terdapat potensi pertambangan yang signifikan, terutama dalam bidang minyak dan gas bumi. Saat ini, ada dua perusahaan asing yang beroperasi di daerah ini, yaitu Petronas dari Malaysia dan Petro China dari China. Kabupaten ini memiliki cadangan minyak bumi sekitar 250 juta barrel dan gas alam cair sekitar 2 miliar cubic feet. Selain itu, terdapat juga potensi tambang lain seperti Andesit, Pasir Pantai, Pasir Sungai, Kaolin, dan Tanah Liat yang sedang dikembangkan oleh industri rumah tangga.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Perekonomian Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, pada 2026 masih menunjukkan ketergantungan kuat terhadap sektor berbasis sumber daya alam. Namun, pemerintah daerah mulai mendorong hilirisasi komoditas lokal sebagai strategi untuk menciptakan nilai tambah dan memperluas sumber pertumbuhan ekonomi.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ekonomi Tanjung Jabung Timur pada Triwulan I 2026 tumbuh 2,92 persen secara tahunan (yoy). Pada periode yang sama, nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) berdasarkan harga konstan 2010 tercatat sekitar Rp4,80 triliun.
Angka tersebut menunjukkan aktivitas ekonomi daerah tetap tumbuh, meski lajunya masih berada di bawah sejumlah kabupaten/kota lain di Provinsi Jambi. Pada periode yang sama, ekonomi Provinsi Jambi tumbuh 4,33 persen secara tahunan.
Struktur ekonomi Tanjung Jabung Timur juga memperlihatkan kuatnya peran sektor primer. Berdasarkan data PDRB 2025 sebagai pembanding terbaru untuk struktur sektoral, pertambangan dan penggalian menyumbang 38,13 persen, sementara pertanian, kehutanan dan perikanan mencapai 23,82 persen. Industri pengolahan baru menyumbang 7,58 persen.
Komposisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang. Ketergantungan pada sektor primer membuat perekonomian daerah sangat berkaitan dengan produksi komoditas dan aktivitas ekstraktif. Di sisi lain, besarnya basis sumber daya alam membuka ruang pengembangan industri pengolahan di dalam daerah.
Salah satu yang mulai didorong adalah hilirisasi kelapa. Pada April 2026, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur menerima kunjungan tim Bappenas dan calon investor asal Jerman untuk melihat potensi pengembangan industri kelapa, termasuk pemanfaatan sabut dan tempurung kelapa. Pemerintah Kab.
Potensi tersebut cukup besar. Pemerintah daerah menyebut perkebunan kelapa di Tanjung Jabung Timur mencapai sekitar 51 ribu hektare, dengan peluang pengembangan berbagai produk turunan mulai dari minyak kelapa, santan, sabut hingga tempurung.
Perkembangan hilirisasi juga mulai menarik minat investor lain. Pada Juli 2026, terdapat rencana investasi pengolahan limbah sabut kelapa menjadi coco fiber yang akan dikembangkan di kawasan Pelabuhan Muara Sabak. Produk tersebut memiliki berbagai pemanfaatan, antara lain untuk geotekstil, media tanam dan industri berbasis serat alami.
Dari sisi investasi, hingga Triwulan II 2026 realisasi investasi Tanjung Jabung Timur tercatat sekitar Rp168 miliar. Angka ini masih jauh dibandingkan beberapa daerah lain di Jambi, sehingga ruang untuk menarik investasi baru masih terbuka lebar.
Dengan kondisi tersebut, tantangan Tanjung Jabung Timur pada 2026 bukan hanya meningkatkan produksi komoditas, tetapi mengubah komoditas tersebut menjadi produk bernilai tambah di dalam daerah. Jika hilirisasi berjalan konsisten, sektor industri pengolahan berpotensi menjadi penghubung antara pertanian, investasi, perdagangan dan penciptaan lapangan kerja.
Bagi Tanjung Jabung Timur, masa depan ekonomi tidak cukup hanya menjadi daerah penghasil bahan mentah. Nilai ekonomi terbesar justru akan muncul ketika bahan baku lokal mulai diolah, diperdagangkan dan diekspor sebagai produk bernilai tambah.
Sumber: BPS Provinsi Jambi, BPS Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Bank Indonesia, Pemerintah Kabupaten Tanjung Jabung Timur.
- Penulis: say say
