Rupiah Kembali Masuk Zona Merah, Melemah ke Rp17.685 per Dolar
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 27 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah kembali melemah hari ini.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan Selasa pagi (19/5/2026). Mata uang Garuda turun 17 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.685 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.668 per dolar AS.
Pelemahan rupiah terjadi seiring penguatan indeks dolar AS yang kembali naik di pasar global. Berdasarkan data yang diperoleh Jambisnis.com dari Antara, indeks dolar tercatat menguat 0,14 persen ke posisi 99.052.
Penguatan dolar AS dipicu meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve. Selain itu, sentimen global terkait kondisi ekonomi dan geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan rupiah berpotensi menguat seiring Presiden AS Donald Trump menunda serangan ke Iran.
“Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS di tengah meredanya kekhawatiran pasar setelah Trump menunda serangan ke Iran,” ujarnya dikutip dari Antara, Selasa.
Mengutip Anadolu, Trump memutuskan untuk menunda serangan terhadap Iran karena beberapa negara di kawasan tersebut memberitahu bahwa mereka yakin kesepakatan untuk mengakhiri perang sepenuhnya hampir tercapai.
Trump mengatakan dirinya diminta oleh para pemimpin Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), dan negara-negara lain yang tak disebutkan namanya untuk menunda serangan karena mereka berpikir hampir mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Iran.
“Walau demikian, penguatan mungkin terbatas mengingat sentimen domestik yang masih lemah serta antisipasi investor pada RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga,” ungkap Lukman.
Menurut dia, salah satu penyebab potensi BI memutuskan kenaikan suku bunga ialah meningkatnya imbal hasil obligasi AS. “Kenaikan ini diharapkan bisa membuat rupiah kembali menarik,” kata dia.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.600-Rp17.700 per dolar AS.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua

