Terpuruk! Rupiah Bergerak di Zona Merah Akibat Konflik di Timur Tengah
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month 16 jam yang lalu
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Pada perdagangan pagi ini rupiah bergerak ke zona merah dengan level Rp16.923 per dolar AS. (F:Ist)
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah tampaknya belum membaik. Pada perdagangan pagi ini rupiah kembali tertekan dari dolar Amerika Serikat (AS) akibat sentimen konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi serta kekhawatiran penutupan Selat Hormuz membuat rupiah bergerak di zona merah.
Berdasarkan data pasar, Jumat (6/3/2026), rupiah melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.923 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.905 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat naik 0,34% ke level 98,97.
Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memprediksi rupiah hari ini melemah di rentang Rp 16.900 – 16.940 per dolar AS.
“Hal itu karena sentimen global yang terus berlanjut seputar konflik di Timur Tengah,” ungkap Ibrahim, baru-baru ini.
Ibrahim menjelaskan, perang AS-Israel vs Iran di Timur Tengah memanas setelah Iran meluncurkan gelombang rudal ke Israel pada Kamis pagi, menyebabkan jutaan penduduk berlindung saat konflik memasuki hari keenam.
Selain itu, lanjut Ibrahim, kurs rupiah juga diprediksi kembali melemah akibat sentimen yang luas terkait penutupan Selat Hormuz, yang dapat menghambat distribusi minyak mentah global.
Sebelumnya, Ibrahim mengatakan, analis di bank investasi JP Morgan memperkirakan pasokan minyak mentah dari Irak dan Kuwait diprediksi dapat terhenti dalam beberapa hari ke depan, jika Selat Hormuz tetap ditutup dalam jangka panjang.
Bank investasi tersebut memproyeksi terhentinya pasokan dari Irak dan Kuwait berpotensi memangkas ketersediaan minyak mentah hingga 3,3 juta barel per hari (bpd) pada hari kedelapan konflik AS-Israel vs Iran di Timur Tengah.
Dari sisi internal, Ibrahim menambahkan, rupiah diproyeksi melemah setelah Bank Indonesia merespons penilaian lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada BBB dan melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua





















Saat ini belum ada komentar