Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Hilirisasi & Industrialisasi Dinilai Tidak Sinkron, Lapangan Kerja Tak Bertambah

Hilirisasi & Industrialisasi Dinilai Tidak Sinkron, Lapangan Kerja Tak Bertambah

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Ming, 16 Nov 2025
  • comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Program hilirisasi dan industrialisasi yang digenjot pemerintah dinilai belum memberikan dampak signifikan terhadap pembukaan lapangan kerja di Indonesia. Padahal, proyek hilirisasi yang berjalan saat ini didukung investasi jumbo, terutama dari sektor mineral dan batu bara. Pemerintah menargetkan penyelesaian prastudi kelayakan 18 proyek hilirisasi dengan nilai investasi mendekati Rp600 triliun pada 2025. Komitmen ini ditegaskan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas bersama jajaran menterinya pada 6 November 2025.

Menurut DataIndonesia, sektor minerba menjadi penyerap investasi terbesar dengan nilai mencapai Rp321,8 triliun, disusul ketahanan energi sebesar Rp232 triliun dan transisi energi Rp40 triliun. Sementara itu, sektor pertanian justru menjadi yang terkecil dengan potensi investasi hanya Rp7,11 triliun.

Dari sisi realisasi, industri logam mencatat investasi terbesar pada kuartal III/2025, yakni Rp62,02 triliun, diikuti sektor pertambangan sebesar Rp55,87 triliun. Namun, tingginya investasi tersebut belum berdampak besar terhadap industri pendukung, khususnya kendaraan listrik, karena perbedaan teknologi baterai yang digunakan produsen global.

Hingga kuartal III/2025, penyerapan tenaga kerja manufaktur tercatat 696.478 orang, naik tipis dibandingkan 2024. Namun, sektor dengan investasi terbesar justru memiliki kontribusi tenaga kerja paling kecil.

Pada 2024, industri makanan dan industri tekstil menjadi penyerap tenaga kerja terbanyak, masing-masing 4% dan 2%. Sebaliknya, industri logam dasar hanya menyumbang 0,16% tenaga kerja, dan industri pengolahan batu bara hanya 0,03%.

Kondisi ini menunjukkan bahwa hilirisasi saat ini lebih bersifat padat modal dibanding padat karya, sehingga peranannya dalam menciptakan lapangan kerja masih terbatas.

Meski hilirisasi digadang-gadang sebagai motor industrialisasi, kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB justru terus menurun. Pada kuartal II/2025, kontribusinya hanya 18,67%, jauh di bawah era awal 2000-an yang dapat mencapai 30%.

Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia juga fluktuatif. Pada Oktober 2025, PMI berada di level 51,2 poin, lebih rendah dibanding Thailand (56,6 poin) dan Vietnam (54,5 poin).

Pengamat menilai bahwa hilirisasi dan industrialisasi di Indonesia belum terhubung secara optimal. Hilirisasi hanya menjadi proses pengolahan bahan mentah, namun belum sepenuhnya mendorong pertumbuhan industri manufaktur yang kuat dan menyerap tenaga kerja besar.

  • Penulis: syaiful amri

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • emas batangan

    Sejumlah Nama Baru Masuk Daftar Orang Terkaya di Indonesia

    • calendar_month Sen, 15 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Sepuluh besar orang terkaya Indonesia versi Forbes pada Desember 2025 mengalami perubahan. Bahkan jika daftar itu diperpanjang lagi, bermunculan nama baru. Sementara dari daftar 10 orang terkaya Indonesia, beberapa nama melorot dari daftar. Menurut Forbes sebagaimana dilansir Kompas.com, Senin (15/12) penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 17 persen sepanjang tahun ini turut […]

  • IHSG Rebound, Menguat ke Posisi 8.267

    IHSG Rebound, Menguat ke Posisi 8.267

    • calendar_month Sel, 14 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada awal perdagangan hari ini, Selasa (14/10/2025). IHSG naik 42,76 poin atau 0,49 persen ke level 8.267. Sebanyak 250 saham tercatat menguat, sementara 241 saham melemah, dan 154 saham stagnan. Total nilai transaksi mencapai Rp 3,61 triliun dengan volume perdagangan 5,10 miliar saham. Kapitalisasi pasar tercatat […]

  • Harga Perak Antam Melonjak Jadi Rp 36.245 per Gram

    Harga Perak Antam Melonjak Jadi Rp 36.245 per Gram

    • calendar_month Kam, 11 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga perak murni Antam mengalami lonjakan pada Rabu (10/12/2025) ini. Mengutip laman Logam Mulia, harga perak Antam melonjak sebesar Rp 1.600 menjadi Rp 36.245 per gram. Harga dasar perak Antam murni dengan berat 250 gram kini dipatok sebesar Rp 9.461.250, dengan harga yang termasuk PPN 11% menjadi Rp 10.501.988. Sedangkan perak dengan berat […]

  • Harga Perak Antam Naik Rp200 Jadi Rp 27.664 per Gram

    Harga Perak Antam Naik Rp200 Jadi Rp 27.664 per Gram

    • calendar_month Rab, 12 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga perak murni milik PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali mengalami kenaikan pada Rabu (12/11/2025) ini. Harganya naik sebesar Rp 200 menjadi Rp 27.664 per gram. Adanya kenaikan tersebut membuat harga dasar perak Antam murni dengan berat 250 gram kini dipatok sebesar Rp 8.200.000, dengan harga yang termasuk PPN 11% dipatok Rp 9.102.000. […]

  • Harga Minyak Hari Ini Melemah, Pasar Tak Lagi Harap Damai Rusia-Ukraina

    Harga Minyak Hari Ini Melemah, Pasar Tak Lagi Harap Damai Rusia-Ukraina

    • calendar_month Rab, 31 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga minyak dunia pada perdagangan Selasa (31/12/2025) atau Rabu pagi waktu Indonesia bergerak melemah tipis. Penurunan terjadi seiring meredupnya harapan tercapainya kesepakatan damai Rusia–Ukraina serta meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Mengutip laporan CNBC, harga minyak Brent turun 2 sen ke level USD 61,92 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate […]

  • Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care Sejati atau Gaya Hidup Konsumtif?

    Budaya Healing Anak Muda: Antara Self-Care Sejati atau Gaya Hidup Konsumtif?

    • calendar_month Jum, 24 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Belakangan ini, istilah healing semakin akrab di telinga generasi muda. Dari liburan singkat ke Bali, nongkrong di kafe estetik, hingga sekadar rebahan di kamar dengan lilin aromaterapi, semua bisa disebut healing. Namun, di balik tren tersebut, muncul pertanyaan penting: apakah budaya healing benar-benar menjadi bentuk self-care, atau justru berkembang menjadi gaya hidup konsumtif […]

expand_less