Rupiah Kembali Melemah, Konflik Timur Tengah Bikin Pasar Makin Cemas
- account_circle -
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Nilai tukar rupiah. Hari ini rupiah kembali melemah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah belum bisa keluar dari tekanan. Mengawali perdagangan Kamis (13/8/2026), mata uang Indonesia kembali melemah dengan terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp17.879 per dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Antara, angka tersebut lebih rendah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di posisi Rp17.877 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah 0,08% ke posisi 99,931.
Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX) Muhammad Amru Syifa menyatakan rupiah melemah karena masih menghadapi tekanan ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah (Timteng).
“Rupiah masih menghadapi tekanan dari ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah, terutama perkembangan terkait Iran dan Selat Hormuz yang berpotensi mempengaruhi pasokan serta harga energi,” ujarnya.
Mengutip Anadolu, Iran memberikan enam syarat yang harus dipenuhi AS agar Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Mulai dari mengakhiri ancaman terhadap pemimpin tertinggi Iran, menghentikan secara permanen aksi militer terhadap Iran dan sekutu-sekutunya di kawasan, menarik seluruh kekuatan laut dan udara AS yang terlibat dalam blokade terhadap Iran, memberikan kompensasi atas kerugian yang dialami Teheran selama konflik baru-baru ini, mencabut sanksi AS, serta membebaskan aset-aset Iran yang dibekukan.
Iran sendiri tengah menyiapkan rancangan undang-undang yang melarang kapal militer dan komersial dari negara yang dianggap “musuh” memasuki Selat Hormuz tanpa persetujuan Teheran.
Sentimen lain berasal dari rilis indeks harga konsumen (CPI/Consumer Price Index) AS bulan Juli yang naik 0,1 persen secara bulanan, dan 3,4 persen secara tahunan. Kedua angka tersebut sejalan dengan ekspektasi pasar.
Inflasi inti, yang tidak memasukkan komponen harga pangan dan energi yang fluktuatif, meningkat 0,2 persen secara bulanan dan 2,5 persen secara tahunan. Tingkat inflasi tahunan, baik untuk inflasi umum maupun inflasi inti, sedikit melandai dibandingkan bulan Juni.
Menyusul rilis data tersebut, pasar uang meningkatkan spekulasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga kebijakannya pada pertemuan bulan September.
Fed Fund Futurues memperhitungkan probabilitas sekitar 60 persen bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,5-3,75 persen, dibandingkan dengan prediksi pada pekan sebelumnya, yaitu di atas 45 persen.
“Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak konsolidatif dengan peluang penguatan terbatas di kisaran Rp17.750 – Rp17.850 per dolar AS,” ungkap Amru.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber dan narasumber.
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
