Rupiah Tak Berdaya! Dolar AS Dekati Rp18.000
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month Senin, 5 Okt 2026
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah kembali kehilangan tenaga. Setelah sempat menguat pada perdagangan sebelumnya, mata uang Indonesia kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan Senin (5/10/2026).
Mengutip Antara, rupiah melemah 21 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.903 per dolar AS. Posisi tersebut merosot dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.882 per dolar AS.
Pelemahan tersebut kembali membuat rupiah berada dalam tekanan. Level psikologis Rp18.000 per dolar AS pun semakin dekat.
Dengan posisi Rp17.903 per dolar AS, rupiah kini hanya berjarak Rp97 dari level Rp18.000.
Mayoritas mata uang kawasan Asia melemah pada awal pekan, meski beberapa masih mampu bertahan di zona hijau.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, enam dari sembilan mata uang Asia yang dipantau terdepresiasi terhadap dolar AS. Sementara tiga lainnya mencatat penguatan.
Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar setelah terapresiasi 0,05% ke posisi TWD 31,79/US$. Yen Jepang menyusul dengan kenaikan 0,03% ke JPY 157,79/US$. Sementara dong Vietnam menguat 0,02% ke VND 25.979/US$.
Selain rupiah, Baht Thailand juga terkoreksi 0,15% ke THB 33,58/US$. Sedangkan peso Filipina melemah 0,13% ke PHP 62,570/US$.
Won Korea Selatan turut terkoreksi 0,12% ke posisi KRW 1.344,08/US$. Dolar Singapura dan ringgit Malaysia masing-masing melemah 0,09% dan 0,07% ke SGD 1,2803/US$ dan MYR 4,084/US$.
Tekanan terhadap mayoritas mata uang Asia berlangsung seiring penguatan dolar AS. Pada pukul yang sama, indeks dolar AS naik 0,17% ke level 102,119.
Dolar AS mengawali pekan dengan tetap kokoh di sekitar level tertinggi dalam 17 bulan. Kekuatan dolar masih ditopang oleh tingginya imbal hasil Treasury AS serta aliran dana menuju aset safe haven di tengah volatilitas pasar obligasi global.
Yield US Treasury tenor 10 tahun berada di kisaran 5,262%, masih dekat level tertinggi dalam 24 tahun yang disentuh pada pekan lalu.
“Dolar menjadi pemenang utama dalam kondisi saat ini karena kenaikan yield Treasury meningkatkan daya tarik aset AS, sementara aksi jual obligasi secara global turut mendorong aliran dana menuju greenback sebagai aset safe haven,” ujar Matthew Ryan, Head of Market Strategy Ebury, dikutip dari Reuters.
Meski dolar masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga The Federal Reserve pada Oktober justru semakin mereda setelah data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan.
Pelaku pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 78% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada Oktober, meningkat dari 36% sepekan sebelumnya. Meski demikian, pasar masih memperkirakan adanya kenaikan suku bunga pada Desember.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
