Rupiah Hari Ini Menguat ke Rp17.911, Menjauh dari Rp18.000
- account_circle Darmanto Zebua
- calendar_month 8 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Mata uang Indonesia dan Amerika Serikat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Angin segar akhirnya berembus ke rupiah. Setelah sempat loyo pada perdagangan sebelumnya, mata uang Indonesia kembali menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa (6/10/2026).
Mengutip Antara, rupiah hari ini berada di level Rp17.911 per dolar Amerika Serikat (AS). Posisi tersebut menguat 6 poin atau 0,03 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.917 per dolar AS.
Meski penguatannya tipis, pergerakan tersebut menjadi kabar positif bagi rupiah. Mata uang Indonesia kembali menjauh dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Namun, jaraknya masih sangat dekat. Dengan posisi Rp17.911, rupiah hanya berjarak Rp89 dari level Rp18.000.
Pada perdagangan hari ini, indeks dolar AS justru tercatat menguat 0,28 persen menjadi 102,19.
Berdasarkan data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, hampir semua mata uang Asia yang dipantau berada di zona merah.
Peso Filipina mencatat pelemahan paling dalam dengan depresiasi 0,30% ke posisi PHP62,746/US$. Won Korea Selatan menyusul dengan koreksi 0,16% ke KRW1.343,75/US$.
Sementara dolar Singapura terdepresiasi 0,05% ke SGD1,2796/US$. Dong Vietnam turun 0,04% ke VND26.001/US$.
Dolar Taiwan dan baht Thailand masing-masing melemah 0,03% ke TWD31,72/US$ dan THB33,65/US$. Yen Jepang terkoreksi 0,02% ke JPY157,94/US$, sedangkan ringgit Malaysia mencatat pelemahan paling tipis sebesar 0,01% ke MYR4,085/US$.
Di sisi lain, kekuatan dolar tetap bertahan meski pasar mulai mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada bulan ini. Investor masih menilai bank sentral AS berpotensi perlu mempertahankan kebijakan ketat lebih lama karena tekanan inflasi belum sepenuhnya mereda.
Data pada Senin menunjukkan aktivitas sektor jasa AS melambat pada September. Namun, permintaan domestik yang tetap kuat masih menekan rantai pasok dan mendorong kenaikan harga input bisnis, sehingga menambah kekhawatiran bahwa inflasi dapat bertahan tinggi hingga tahun depan.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber.
- Penulis: Darmanto Zebua
- Editor: Darmanto Zebua
