Bank Sentral Australia Naikkan Suku Bunga ke 4,35 Persen, Inflasi Masih Tinggi akibat Konflik Global
- account_circle say say
- calendar_month 14 menit yang lalu

Bank sentral Australia (RBA) menaikkan suku bunga menjadi 4,35 persen sebagai respons terhadap inflasi tinggi yang dipicu kenaikan harga energi dan dampak konflik global.
JAMBISNIS.COM – Reserve Bank of Australia (RBA) kembali menaikkan suku bunga acuannya menjadi 4,35 persen. Keputusan ini diambil sebagai respons terhadap tekanan inflasi yang masih tinggi, dipicu kenaikan harga energi dan dampak konflik global. Langkah tersebut menandai kenaikan suku bunga ketiga secara berturut-turut, sekaligus mengembalikan level suku bunga seperti pada Desember 2024.
Mengutip laporan CNBC, mayoritas anggota dewan RBA mendukung kebijakan ini. Sebanyak delapan anggota memilih menaikkan suku bunga, sementara satu anggota lainnya memilih mempertahankan di level 4,1 persen.
RBA menyebut lonjakan inflasi terjadi sejak paruh kedua 2025, terutama akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga bahan bakar dan komoditas global.
“Perkembangan di Timur Tengah berdampak pada inflasi. Harga bahan bakar yang lebih tinggi meningkatkan tekanan harga dan berpotensi menimbulkan efek lanjutan pada berbagai sektor,” tulis RBA dalam pernyataannya.
Bank sentral juga memperkirakan inflasi akan tetap berada di atas target 2–3 persen dalam beberapa waktu ke depan. Risiko inflasi dinilai masih tinggi seiring ketidakpastian global.
Ke depan, RBA memberi sinyal kemungkinan pengetatan kebijakan moneter lanjutan. Suku bunga diproyeksikan dapat mencapai 4,7 persen pada Desember 2026, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya.
Selain itu, proyeksi inflasi direvisi naik menjadi 4,8 persen pada pertengahan 2026 dan sekitar 4 persen di akhir tahun. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi Australia justru direvisi turun menjadi 1,3 persen dari sebelumnya 1,8 persen.
Data terbaru menunjukkan inflasi tahunan Australia mencapai 4,09 persen pada kuartal I 2026. Bahkan, pada Maret 2026, inflasi tercatat sebesar 4,6 persen, menjadi level tertinggi dalam lebih dari dua tahun terakhir.
Meski demikian, ekonomi Australia masih menunjukkan ketahanan. Produk domestik bruto negara tersebut tercatat tumbuh 2,6 persen secara tahunan pada kuartal IV 2025, menjadi laju tercepat dalam dua tahun.
RBA menegaskan bahwa ketidakpastian global, terutama terkait dinamika geopolitik di Timur Tengah, masih menjadi faktor utama yang dapat memengaruhi inflasi dan arah kebijakan moneter ke depan.
- Penulis: say say


