Kamis, 13 Agu 2026
light_mode
Beranda » Nasional » Industri Tekstil Indonesia Tak Lagi Berstatus ‘Sunset Industry’

Industri Tekstil Indonesia Tak Lagi Berstatus ‘Sunset Industry’

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional telah bangkit dan tidak lagi berstatus sebagai “sunset industry” atau industri yang menurun. Sempat dianggap mati suri, kini industri tekstil Indonesia justru kembali menorehkan catatan pertumbuhan positif. Modernisasi pabrik, efisiensi energi, dan dukungan pemerintah menjadi kunci kebangkitan sektor padat karya ini.

Dalam sambutannya saat membuka konferensi tahunan International Textile Manufacturers Federation (ITMF) dan International Apparel Federation (IAF) World Fashion Convention 2025 di Yogyakarta, Jumat (24/10), Agus menyebut bahwa sektor TPT mencatat pertumbuhan 5,39 persen dalam satu tahun terakhir, atau sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan II 2025.

“Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terus tumbuh dan tidak lagi berstatus ‘sunset industry’,” ujar Agus dikutip Sabtu (25/10).

Kontribusi sektor TPT terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga mencapai 0,98 persen, menandakan peran strategisnya dalam menopang ekonomi nasional di tengah tantangan global. Pemerintah, kata Agus, terus menjaga momentum pertumbuhan tersebut melalui modernisasi industri tekstil, salah satunya lewat program restrukturisasi mesin dan peralatan.

Program ini terbukti meningkatkan kapasitas produksi hingga 21,75 persen, efisiensi energi sebesar 11,86 persen, serta menciptakan tambahan lapangan kerja sebesar 3,96 persen. Selain itu, penyederhanaan perizinan investasi berbasis risiko melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 turut mempercepat masuknya investasi baru ke sektor manufaktur padat karya.

Menperin juga memaparkan bahwa pemerintah telah menyalurkan Kredit Industri Padat Karya senilai Rp 20 triliun pada 2025. Skema pembiayaan ini menyasar 2.000–10.000 perusahaan tekstil dan apparel guna mendukung ekspansi usaha, menjaga serapan tenaga kerja, dan memperkuat ketahanan industri nasional.

Selain itu, sektor ini juga mendapat dukungan melalui fasilitas masterlist untuk impor barang modal dan insentif fiskal berupa tax holiday, tax allowance, investment allowance, hingga super deduction tax untuk perusahaan yang aktif dalam riset dan pendidikan vokasi.

“Dalam kondisi ini, industri TPT tetap menjadi pilar strategis manufaktur Indonesia yang menopang pertumbuhan inklusif, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi nasional,” kata Agus.

Kinerja ekspor juga menunjukkan tren positif. Produk tekstil Indonesia dengan kode HS 61 (pakaian dan aksesori rajutan) kini menjadi komoditas surplus perdagangan terbesar kedua di pasar Amerika Serikat, dengan nilai mencapai USD 1,86 miliar, mengungguli produk alas kaki (HS 64) senilai USD 1,85 miliar. Pencapaian ini menegaskan bahwa daya saing industri tekstil Indonesia di pasar global semakin kuat, terutama pada kategori produk bernilai tambah tinggi.

Menurut data Kemenperin, Indonesia kini masuk lima besar negara produsen tekstil paling efisien di dunia. Subsektor pemintalan benang: biaya produksi hanya USD 2,71 per kilogram, lebih efisien dibandingkan India, Tiongkok, dan Turki.

  • Subsektor pertenunan: biaya produksi USD 8,84 per meter.
  • Fabric finishing: hanya USD 1,16 per meter, termasuk yang terendah secara global.

“Angka-angka tersebut menjadi bukti nyata daya saing global Indonesia dan bisa menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan masa depan,” tutur Agus.

Menperin menegaskan bahwa sektor TPT akan tetap menjadi pilar utama industri manufaktur Indonesia, seiring dengan peningkatan efisiensi, adopsi teknologi baru, dan transformasi hijau.

Pemerintah juga tengah mendorong pengembangan fashion berkelanjutan, penggunaan serat ramah lingkungan, dan digitalisasi rantai pasok untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta rantai nilai global.

“Kita ingin industri tekstil Indonesia bukan hanya menjadi besar, tapi juga berkelas dunia — efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi,” tegasnya.

  • Penulis: syaiful amri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Talang Banjar Tembus Rp60.000 per Kg

    Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Talang Banjar Tembus Rp60.000 per Kg

    • calendar_month Selasa, 21 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga kebutuhan pokok masyarakat di Pasar Rakyat Talang Banjar terpantau relatif stabil pada Selasa (21/4/2026). Berdasarkan data dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, mayoritas komoditas tidak mengalami perubahan harga signifikan meskipun beberapa bahan pangan masih berada di level cukup tinggi. Untuk komoditas beras, harga beras medium seperti Beras Belido dan Beras Naruto […]

  • Sempat Galau, IHSG Dibuka Menguat ke Level 8.064

    Sempat Galau, IHSG Dibuka Menguat ke Level 8.064

    • calendar_month Kamis, 16 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat pada perdagangan sesi pertama hari ini, Kamis (16/10/2025). Berdasarkan data RTI Infokom, IHSG dibuka pada level 8.064,67. IHSG lalu bergerak pada rentang 8.030-8.072 sesaat setelah pembukaan. Sebanyak 864,74 juta saham diperdagangkan, dengan nilai Rp947,68 miliar. Sejumlah 240 saham menguat, 164 saham melemah, dan 201 saham stagnan. […]

  • Pemerintah Perkuat Skema Penugasan Khusus Ekspor untuk Lindungi Eksportir di Tengah Gejolak Global

    Pemerintah Perkuat Skema Penugasan Khusus Ekspor untuk Lindungi Eksportir di Tengah Gejolak Global

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah memperkuat skema Penugasan Khusus Ekspor (PKE) sebagai upaya melindungi sekaligus mendorong kinerja eksportir nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah ini dinilai penting seiring meningkatnya risiko geopolitik yang memicu gangguan rantai pasok serta fluktuasi pasar internasional. Pemerintah melalui Kementerian Keuangan menegaskan pendekatan adaptif diperlukan agar pelaku usaha tetap mampu bersaing. Direktur Pengelolaan […]

  • Menaker Ajak Perusahaan Bangun Budaya K3 dengan Pola Pikir Baru

    Menaker Ajak Perusahaan Bangun Budaya K3 dengan Pola Pikir Baru

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengajak seluruh pimpinan perusahaan di Indonesia untuk membangun budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) melalui pendekatan pola pikir baru yang berpusat pada manusia. Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, Menaker menjelaskan bahwa perubahan cara pandang terhadap K3 sangat penting agar keselamatan kerja tidak sekadar menjadi kewajiban administratif, tetapi menjadi budaya […]

  • Percasi Jambi Gelar Buka Bersama, Perkuat Silaturahmi dan Pembinaan Atlet Catur

    Percasi Jambi Gelar Buka Bersama, Perkuat Silaturahmi dan Pembinaan Atlet Catur

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pengurus Provinsi Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Jambi menggelar kegiatan buka puasa bersama yang dilaksanakan di Kafe Resto Mutiara Senja dan diikuti para pecinta serta penggiat olahraga catur di Kota Jambi, Senin (16/3/2026). Kegiatan yang berlangsung hangat tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat silaturahmi sekaligus memperkuat komitmen dalam pembinaan atlet catur di daerah. […]

  • Cabai

    Delapan Indeks Kelompok Pengeluaran Picu Inflasi Provinsi Jambi 3,55 Persen

    • calendar_month Senin, 1 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Delapan kelompok pengeluaran memicu inflasi tahunan (year on year) Provinsi Jambi pada November 2025 sebesar 3,55 persen. Sementara inflasi month to month, pada November 2025 inflasi Provinsi Jambi di angka 0,05 persen. Dalam rilis bulanan BPS Provinsi Jambi pada Senin (1/12), disampaikan bahwa dari delapan kelompok pemngeluaran tersebut, sejumlah komoditas memberi andil tertinggi. […]

expand_less