Kamis, 20 Agu 2026
light_mode
Beranda » Nasional » Industri Tekstil Indonesia Tak Lagi Berstatus ‘Sunset Industry’

Industri Tekstil Indonesia Tak Lagi Berstatus ‘Sunset Industry’

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Sabtu, 25 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita memastikan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional telah bangkit dan tidak lagi berstatus sebagai “sunset industry” atau industri yang menurun. Sempat dianggap mati suri, kini industri tekstil Indonesia justru kembali menorehkan catatan pertumbuhan positif. Modernisasi pabrik, efisiensi energi, dan dukungan pemerintah menjadi kunci kebangkitan sektor padat karya ini.

Dalam sambutannya saat membuka konferensi tahunan International Textile Manufacturers Federation (ITMF) dan International Apparel Federation (IAF) World Fashion Convention 2025 di Yogyakarta, Jumat (24/10), Agus menyebut bahwa sektor TPT mencatat pertumbuhan 5,39 persen dalam satu tahun terakhir, atau sejak triwulan IV 2024 hingga triwulan II 2025.

“Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) terus tumbuh dan tidak lagi berstatus ‘sunset industry’,” ujar Agus dikutip Sabtu (25/10).

Kontribusi sektor TPT terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional juga mencapai 0,98 persen, menandakan peran strategisnya dalam menopang ekonomi nasional di tengah tantangan global. Pemerintah, kata Agus, terus menjaga momentum pertumbuhan tersebut melalui modernisasi industri tekstil, salah satunya lewat program restrukturisasi mesin dan peralatan.

Program ini terbukti meningkatkan kapasitas produksi hingga 21,75 persen, efisiensi energi sebesar 11,86 persen, serta menciptakan tambahan lapangan kerja sebesar 3,96 persen. Selain itu, penyederhanaan perizinan investasi berbasis risiko melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 turut mempercepat masuknya investasi baru ke sektor manufaktur padat karya.

Menperin juga memaparkan bahwa pemerintah telah menyalurkan Kredit Industri Padat Karya senilai Rp 20 triliun pada 2025. Skema pembiayaan ini menyasar 2.000–10.000 perusahaan tekstil dan apparel guna mendukung ekspansi usaha, menjaga serapan tenaga kerja, dan memperkuat ketahanan industri nasional.

Selain itu, sektor ini juga mendapat dukungan melalui fasilitas masterlist untuk impor barang modal dan insentif fiskal berupa tax holiday, tax allowance, investment allowance, hingga super deduction tax untuk perusahaan yang aktif dalam riset dan pendidikan vokasi.

“Dalam kondisi ini, industri TPT tetap menjadi pilar strategis manufaktur Indonesia yang menopang pertumbuhan inklusif, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat ekonomi nasional,” kata Agus.

Kinerja ekspor juga menunjukkan tren positif. Produk tekstil Indonesia dengan kode HS 61 (pakaian dan aksesori rajutan) kini menjadi komoditas surplus perdagangan terbesar kedua di pasar Amerika Serikat, dengan nilai mencapai USD 1,86 miliar, mengungguli produk alas kaki (HS 64) senilai USD 1,85 miliar. Pencapaian ini menegaskan bahwa daya saing industri tekstil Indonesia di pasar global semakin kuat, terutama pada kategori produk bernilai tambah tinggi.

Menurut data Kemenperin, Indonesia kini masuk lima besar negara produsen tekstil paling efisien di dunia. Subsektor pemintalan benang: biaya produksi hanya USD 2,71 per kilogram, lebih efisien dibandingkan India, Tiongkok, dan Turki.

  • Subsektor pertenunan: biaya produksi USD 8,84 per meter.
  • Fabric finishing: hanya USD 1,16 per meter, termasuk yang terendah secara global.

“Angka-angka tersebut menjadi bukti nyata daya saing global Indonesia dan bisa menjadi fondasi kuat untuk pertumbuhan masa depan,” tutur Agus.

Menperin menegaskan bahwa sektor TPT akan tetap menjadi pilar utama industri manufaktur Indonesia, seiring dengan peningkatan efisiensi, adopsi teknologi baru, dan transformasi hijau.

Pemerintah juga tengah mendorong pengembangan fashion berkelanjutan, penggunaan serat ramah lingkungan, dan digitalisasi rantai pasok untuk memperkuat posisi Indonesia dalam peta rantai nilai global.

“Kita ingin industri tekstil Indonesia bukan hanya menjadi besar, tapi juga berkelas dunia — efisien, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi,” tegasnya.

  • Penulis: syaiful amri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Persaingan Otomotif Dimulai, Bea Masuk Mobil Eropa 0 Persen

    Persaingan Otomotif Dimulai, Bea Masuk Mobil Eropa 0 Persen

    • calendar_month Rabu, 15 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM– Industri otomotif nasional bersiap menghadapi babak baru setelah Indonesia resmi menandatangani perjanjian dagang Indonesia–European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Pasalnya, berdasarkan dokumen European Commision, bea masuk mobil asal Eropa yang tadinya 50 persen akan dihilangkan dalam lima tahun ke depan. Sehingga membuka jalan bagi merek seperti Ferrari, BMW, Mercedes-Benz, dan Audi untuk masuk […]

  • Harga Emas di Pegadaian Turun, UBS dan Galeri24 Segini Harganya

    Harga Emas di Pegadaian Turun, UBS dan Galeri24 Segini Harganya

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Jelang hari raya Idulfitri 1447 H/2026 harga emas di Pegadaian mengalami penurunan. Baik itu produk logam mulia buatan UBS maupun Galeri24, pagi ini kompak turun Rp11.000. Dilansir laman resmi Sahabat Pegadaian, Selasa (17/3/2026), emas UBS menjadi Rp3.015.000 dari semula Rp3.026.000 per gram. Sementara emas Galeri24 dipatok Rp3.001.000 per gram dari sebelumnya di angka […]

  • Ilustrasi Play Button

    Keluar FCA, Saham Sawit Haji Isam Rontok

    • calendar_month Selasa, 14 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Saham emitem milik Haji Isam dengan kode JARR sempat mencuri perhatian di pasar modal. Saham perusahaan kelapa sawit PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) ini sempat meroket 2.028% dari Rp 384 pada pertengahan Juli 2025 ke Rp 8.175 per 13 Oktober 2025 kemarin. Dalam enam bulan JARR terbang 1.830 persen dari Rp360 pada […]

  • Saatnya Berburu Emas! UBS dan Galeri24 di Pegadaian Turun

    Saatnya Berburu Emas! UBS dan Galeri24 di Pegadaian Turun

    • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Momentum emas murah akhirnya datang. Warga Jambi kini punya peluang untuk menambah koleksi logam mulia di tengah harga emas yang sedang bersahabat. Pada perdagangan Kamis (4/6/2026) ini harga emas batangan di Pegadaian bergerak bervariasi dan kecenderungan melemah. Penurunan terjadi pada emas produksi UBS dan Galeri24. Harga emas UBS tercatat turun menjadi Rp2.824.000 per […]

  • Harga Sembako di Kota Jambi Stabil, Cabai Turun dan Ayam Broiler Naik

    Harga Sembako di Kota Jambi Stabil, Cabai Turun dan Ayam Broiler Naik

    • calendar_month Jumat, 14 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga kebutuhan pokok di tiga pasar utama Kota Jambi Pasar Angso Duo, Pasar Rakyat Talang Banjar, dan Pasar Rakyat Kasang mengalami pergerakan yang relatif stabil. Berdasarkan data resmi Sistem Informasi Harga Komoditi (SIHARKO) milik Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Jambi, sebagian besar komoditas berada pada kondisi harga tetap, sementara beberapa item menunjukkan perubahan […]

  • Eks Direktur Jak TV dan Ketua Tim Buzzer Dituntut 8 Tahun Penjara

    Eks Direktur Jak TV dan Ketua Tim Buzzer Dituntut 8 Tahun Penjara

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Mantan Direktur Pemberitaan Jak TV, Tian Bahtiar, dan Ketua Tim Buzzer Adhiya Muzakki dituntut delapan tahun penjara dalam kasus dugaan perintangan penegakan hukum pada sejumlah perkara korupsi. Tuntutan tersebut dibacakan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam sidang di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (18/2/2026). Selain Tian dan Adhiya, […]

expand_less