Rupiah Bangkit! Data Buruh Amerika Bikin Dolar Tersungkur
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Penukaran rupiah dengan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Setelah beberapa hari berada di bawah tekanan, nilai tukar rupiah akhirnya bangkit. Mata uang Indonesia berhasil menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (3/7/2026), didorong melemahnya data ketenagakerjaan Negeri Paman Sam yang jauh dari ekspektasi pasar.
Pada perdagangan Jumat pagi, rupiah terapresiasi 45 poin atau 0,25 persen ke level Rp17.950 per dolar AS, dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.995 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa penguatan rupiah dipicu oleh rilis data pasar tenaga kerja Amerika Serikat yang mengecewakan. Kondisi tersebut langsung memicu pelemahan dolar AS di pasar global sehingga memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk menguat.
“Penambahan Non-Farm Payrolls (NFP) hanya mencapai 57 ribu pada Juni 2026, turun dari 129 ribu pada bulan sebelumnya dan jauh di bawah konsensus pasar yang memperkirakan 113 ribu,” ujar Josua dikutip dari Antara.
Menurutnya, perlambatan penciptaan lapangan kerja di AS menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi mulai kehilangan momentum. Hal ini meningkatkan ekspektasi pelaku pasar bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, berpotensi mengambil kebijakan moneter yang lebih longgar apabila tren pelemahan ekonomi terus berlanjut.
Ekspektasi tersebut membuat dolar AS kehilangan tenaga terhadap berbagai mata uang dunia. Rupiah pun ikut menikmati sentimen positif yang mendorong penguatan pada awal perdagangan.
Sementara itu, tingkat pengangguran turun tipis menjadi 4,2 persen dari 4,3 persen, lebih baik dibandingkan ekspektasi pasar yang sebesar 4,3 persen.
Pelaku pasar disebut lebih menitikberatkan pada lemahnya data NFP, sehingga mendorong mundurnya ekspektasi waktu kenaikan suku bunga The Fed dari September 2026 menjadi Oktober 2026.
Di sisi lain, ia mengatakan terdapat kekhawatiran investor terhadap ketahanan sektor eksternal Indonesia, setelah mencatat defisit neraca perdagangan bulanan pertama dalam enam tahun terakhir.
Sentimen negatif semakin diperkuat oleh proyeksi Fitch yang memperkirakan cadangan devisa Indonesia akan turun menjadi setara 4,9 bulan pembayaran eksternal pada akhir 2026, lebih rendah dibandingkan median negara berperingkat BBB yang sebesar 5,0 bulan pembayaran eksternal.
“Perkembangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi pelebaran defisit transaksi berjalan serta menekan sentimen investor terhadap rupiah,” ujar dia Josua.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
