9 Daerah di Jambi Rawan Karhutla, Muaro Jambi dan Tanjab Barat Paling Disorot
- account_circle say say
- calendar_month 7 jam yang lalu
- print Cetak

FOTO/ILUSTRASI: Karhutla yang terjadi di jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Jambi kembali meningkat memasuki puncak musim kemarau Agustus 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan lebih dari 70 persen wilayah Jambi masuk kategori risiko tinggi munculnya titik panas (hotspot) pada periode puncak kemarau.
Sejumlah daerah kini menjadi perhatian karena memiliki riwayat dan jumlah hotspot yang relatif tinggi. Berdasarkan pemetaan BMKG, wilayah yang masuk kategori rawan meliputi Batanghari, Bungo, Merangin, Muaro Jambi, Sarolangun, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur, Tebo, serta Kota Jambi. Kondisi tersebut semakin perlu diwaspadai karena BMKG memprediksi puncak musim kemarau Jambi berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Data pemantauan hotspot menunjukkan sejumlah wilayah Jambi mengalami peningkatan titik panas memasuki Agustus. Berdasarkan data yang dilaporkan dari pemantauan BMKG hingga 7 Agustus 2026, tercatat 335 hotspot di Provinsi Jambi sepanjang Agustus.
Sebaran terbanyak berada di Muaro Jambi dengan 98 titik, disusul Sarolangun 65 titik, Merangin 54 titik, Tanjung Jabung Barat 51 titik, Tebo 24 titik, Batanghari 20 titik, Bungo 14 titik dan Tanjung Jabung Timur tujuh titik. Sementara Kerinci tercatat dua titik, sedangkan Kota Jambi dan Sungai Penuh tidak terdeteksi hotspot pada periode tersebut.
Dalam periode 1 Januari hingga 7 Agustus 2026, akumulasi hotspot Jambi mencapai 2.340 titik. Jika dilihat berdasarkan akumulasi sepanjang tahun tersebut, Tanjung Jabung Barat menjadi daerah dengan hotspot terbanyak, yakni 566 titik.
Berikutnya Muaro Jambi mencapai 523 titik, Sarolangun 418 titik, Merangin 298 titik, Tebo 146 titik, Batanghari 127 titik, Tanjung Jabung Timur 113 titik, Bungo 110 titik dan Kerinci 31 titik. Kota Jambi tercatat tujuh titik dan Sungai Penuh satu titik.
Selain pemetaan BMKG, Satgas Karhutla Provinsi Jambi juga telah menetapkan sejumlah wilayah sebagai prioritas pengawasan. Berdasarkan hasil patroli darat, patroli udara dan pemantauan hotspot, wilayah yang menjadi prioritas pengawasan meliputi Sarolangun, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat dan Batanghari. Artinya, daerah tersebut perlu mendapatkan perhatian ekstra karena kombinasi kondisi lahan, cuaca kering dan kemunculan titik panas dapat meningkatkan potensi kebakaran.
Kesiapsiagaan juga terlihat dari penetapan status siaga karhutla di sejumlah daerah. BPBD Provinsi Jambi mencatat delapan daerah telah menetapkan status siaga karhutla, yakni Batanghari, Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Merangin, Bungo dan Tebo. Penetapan status tersebut bertujuan mempercepat mobilisasi personel, peralatan serta koordinasi lintas instansi apabila terjadi kebakaran.
Pemerintah Provinsi Jambi sendiri telah menetapkan periode siaga darurat karhutla sepanjang 2026 sebagai bagian dari langkah antisipasi menghadapi musim kemarau.
Sarolangun menjadi salah satu daerah yang perlu mendapat perhatian. Data pemerintah daerah menunjukkan sejak 1 Januari hingga 29 Juni 2026, terdapat 156 hotspot yang tersebar di 11 kecamatan di Kabupaten Sarolangun.
BPBD Sarolangun menegaskan hotspot tidak selalu berarti kebakaran, karena titik panas merupakan indikator awal yang masih perlu diverifikasi di lapangan. Namun, setiap hotspot tetap perlu ditindaklanjuti sebagai bagian dari deteksi dini karhutla.
BMKG mengingatkan kondisi kemarau 2026 berpotensi lebih kering di sejumlah wilayah Indonesia. Dalam siaran resminya, BMKG menyebut kombinasi kemarau dan fenomena iklim seperti El Nino dapat membuat curah hujan berkurang dan meningkatkan kekeringan.
Kondisi yang lebih kering tersebut secara langsung meningkatkan kemudahan terbakar vegetasi dan lahan, sehingga potensi munculnya hotspot juga meningkat. Untuk Jambi, ancaman tersebut menjadi semakin penting karena sebagian wilayah memiliki kawasan gambut yang mudah terbakar ketika kondisi muka air tanah turun.
Ancaman karhutla bukan hanya soal api dan kerusakan lahan. Jika kebakaran meluas, asap dapat mengganggu kualitas udara dan jarak pandang serta berdampak terhadap aktivitas masyarakat. Karena itu, munculnya kondisi kabut/asap dan udara kabur di sejumlah wilayah Jambi selama periode kemarau perlu dipantau secara serius, meskipun kondisi udara kabur tidak otomatis berarti terjadi karhutla. Masyarakat di daerah rawan diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar dan segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kepulan asap.
Dengan menggabungkan peringatan BMKG, pemantauan hotspot dan pemetaan Satgas Karhutla, daerah yang perlu mendapat perhatian lebih di Jambi saat puncak kemarau adalah: Muaro Jambi, Tanjung Jabung Barat, Sarolangun, Merangin, Tebo, Batanghari, Tanjung Jabung Timur, Bungo dan Kota Jambi.
Namun, tingginya hotspot di suatu daerah tidak otomatis berarti seluruh titik tersebut merupakan kebakaran. Hotspot merupakan indikasi adanya anomali panas yang harus diverifikasi dengan kondisi lapangan. Dengan puncak kemarau masih berlangsung pada Agustus-September, kewaspadaan terhadap karhutla diperkirakan tetap diperlukan dalam beberapa pekan ke depan.
Sumber: BMKG, BPBD Provinsi Jambi/Pemprov Jambi, BPBD Kabupaten Sarolangun, serta laporan pemantauan hotspot yang dikutip dari BMKG.
- Penulis: say say
