Maro Sebo Muaro Jambi Disorot Sensus Ekonomi 2026, Dari Kopi hingga Wisata Candi
- account_circle say say
- calendar_month 17 menit yang lalu
- print Cetak

Maro Sebo memiliki aset ekonomi yang tidak dimiliki semua kecamatan, yakni Kawasan Candi Muaro Jambi. Desa Wisata Muara Jambi berada di Kecamatan Maro Sebo dan menawarkan candi, kanal kuno, Sungai Batanghari, kerajinan, kuliner, homestay, penyewaan sepeda hingga warung kopi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Aktivitas ekonomi Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, ikut menjadi perhatian dalam Sensus Ekonomi 2026 (SE2026). Pada 2 Juli 2026, BPS Provinsi Jambi melakukan supervisi pendataan di wilayah tersebut dan mengunjungi salah satu pelaku usaha, Pojok Kopi Dusun. Supervisi dilakukan untuk memastikan wawancara, penggunaan aplikasi dan proses pendataan berjalan sesuai standar.
Kunjungan tersebut menarik karena memperlihatkan perubahan wajah ekonomi desa. Aktivitas usaha tidak hanya berkaitan dengan pertanian dan perkebunan, tetapi juga mulai mencakup kuliner, kedai kopi, jasa, pariwisata dan ekonomi kreatif.
Secara regional, Muaro Jambi merupakan salah satu daerah dengan kontribusi besar terhadap perekonomian Jambi. Data BPS mencatat Muaro Jambi menyumbang 12,57 persen terhadap distribusi PDRB Provinsi Jambi pada Triwulan I 2026.
Basis ekonominya juga masih kuat pada sektor primer. Data pemerintah daerah menunjukkan Maro Sebo memiliki aktivitas perkebunan sawit, karet, kopi dan kakao. Artinya, terdapat rantai ekonomi yang dapat bergerak dari produksi komoditas menuju perdagangan, pengolahan, transportasi hingga konsumsi.
Di sisi lain, Maro Sebo memiliki aset ekonomi yang tidak dimiliki semua kecamatan, yakni Kawasan Candi Muaro Jambi. Desa Wisata Muara Jambi berada di Kecamatan Maro Sebo dan menawarkan candi, kanal kuno, Sungai Batanghari, kerajinan, kuliner, homestay, penyewaan sepeda hingga warung kopi.
Bagi UMKM, kondisi tersebut membuka rantai pasar yang cukup panjang. Wisatawan membutuhkan transportasi, makanan, minuman, oleh-oleh, jasa pemandu, penginapan dan aktivitas rekreasi. Pemerintah daerah juga sebelumnya mendorong pengembangan UMKM di sekitar kawasan candi agar manfaat ekonomi pariwisata lebih banyak dirasakan masyarakat lokal.
Peluang lainnya muncul dari kebutuhan institusi. Di Desa Niaso, Maro Sebo, misalnya, pemerintah daerah menekankan penggunaan produk lokal serta pelibatan UMKM, petani dan nelayan dalam rantai pasokan program dapur SPPG.
Bagi pelaku bisnis, Maro Sebo menunjukkan bahwa ekonomi desa tidak lagi hanya soal produksi. Tantangannya adalah bagaimana komoditas, wisata, konsumsi dan jasa disambungkan menjadi rantai nilai baru.
SE2026 menjadi penting karena data usaha yang lebih lengkap nantinya dapat membantu menjawab pertanyaan bisnis: usaha apa yang tumbuh, siapa konsumennya, di mana pasar terbentuk, dan kebutuhan apa yang masih belum terisi?
- Penulis: say say
