Banyak Toko Baju Gulung Tikar, Begini Cara Bertahan di Tengah Gempuran Belanja Online
- account_circle say say
- calendar_month 4 jam yang lalu
- print Cetak

Pembeli sedang melihat dan memilih baju di toko .
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Dulu, setiap akhir pekan menjadi waktu yang ditunggu pemilik toko pakaian. Pembeli datang, melihat-lihat rak, memilih ukuran, mencoba baju, lalu pulang membawa kantong belanja. Sekarang ceritanya mulai berbeda. Banyak orang cukup duduk di rumah sambil menggulir layar ponsel. Model pakaian muncul silih berganti. Harga bisa dibandingkan dalam hitungan detik. Belum lagi ada gratis ongkir, potongan harga, hingga berbagai promo yang membuat belanja online terasa semakin menarik.
Perubahan kebiasaan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi toko pakaian konvensional. Terlebih, pakaian bukan kebutuhan yang dibeli masyarakat setiap hari. Ada masa ketika toko ramai, ada pula masa ketika pengunjung bisa dihitung dengan jari.
Menjelang Lebaran misalnya, permintaan pakaian biasanya meningkat. Begitu pula menjelang Natal bagi masyarakat yang merayakannya. Momen pernikahan, wisuda, tahun baru dan berbagai acara keluarga juga bisa menjadi pemicu meningkatnya penjualan.
Di luar momentum tersebut, pemilik toko harus memutar otak agar pemasukan tidak ikut berhenti.
Di sinilah cara berpikir pemilik usaha perlu berubah.
Toko pakaian tidak cukup hanya mengandalkan lokasi strategis dan pelanggan yang datang secara langsung. Toko harus hadir di tempat pelanggan menghabiskan waktunya: ponsel.
Media sosial bisa dimanfaatkan bukan hanya sebagai etalase, tetapi sebagai tempat membangun hubungan dengan calon pembeli.
Misalnya, toko membuat video sederhana tentang cara memadukan satu celana dengan beberapa atasan. Atau memperlihatkan bagaimana satu model pakaian bisa digunakan untuk bekerja, nongkrong, hingga menghadiri acara keluarga.
Konten seperti itu membuat toko tidak sekadar menjual pakaian, tetapi membantu konsumen menemukan gaya yang mereka inginkan.
Namun, masuk ke dunia digital juga bukan berarti perang harga.
Jika semua toko berlomba menjadi yang termurah, keuntungan semakin tipis. Pemilik usaha justru perlu mencari pembeda. Bisa dari pilihan produk, pelayanan, kualitas, kemasan, hingga karakter toko yang mudah diingat.
Pelanggan yang pernah membeli juga perlu dirawat. Mereka bisa diberikan informasi koleksi baru, voucher pembelian berikutnya atau penawaran khusus pada momentum tertentu.
Dengan begitu, hubungan dengan pelanggan tidak berhenti setelah transaksi selesai.
Pada akhirnya, tantangan toko pakaian hari ini bukan karena masyarakat berhenti membeli baju. Masyarakat tetap membeli, tetapi cara mereka menemukan dan membeli baju sudah berubah.
Karena itu, toko yang ingin bertahan harus ikut berubah. Bukan meninggalkan toko fisik, melainkan menjadikan toko fisik dan digital sebagai dua pintu yang membawa pelanggan menuju bisnis yang sama.
- Penulis: say say
