Rupiah Tumbang Lagi! Kurs Nyaris Sentuh Rp18.000
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Petugas melakukan penghitungan uang untuk memastikan jumlah sesuai dengan transaksi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Penguatan rupiah tidak mampu bertahan lama. Memasuki perdagangan awal pekan, Senin (6/7/2026) nilai tukar rupiah kehilangan tenaga di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini membuat rupiah kembali mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Mengutip Antara, kurs rupiah dibuka melemah 29 poin atau tergerus 0,16 persen ke posisi RpRp17.992 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan sebelumnya, mata uang Indonesia mampu menguat di level Rp 17.963 per dolar AS.
Dikutip dari CNBC International, rupiah melemah saat dolar AS stabil di dekat level terendah dalam dua minggu pada hari ini. Karena investor mengurangi taruhan pada kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Sementara itu, analis Bank Woori Saudara Rully Nova memperkirakan kurs rupiah terhadap dolar AS akan bergerak menguat pada perdagangan Senin, seiring pernyataan dovish dari Gubernur Federal Reserve (The Fed) Kevin Warsh.
“Rupiah pada perdagangan hari ini memiliki ruang penguatan pada kisaran di Rp17.920-Rp17.970 dipengaruhi oleh faktor global melemahnya index dollar seiring dengan pernyataan Gubernur The Fed yang dovish menggiring ekspektasi pasar atas pembatalan kenaikan suku bunga tahun ini dan harga minyak yang terus turun,” ujarnya.
Mengutip Anadolu, pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober mencapai 82 persen. Namun, setelah rilis data nonfarm payroll Amerika Serikat (AS) untuk Juni tercatat lebih rendah dari perkiraan pasar, probabilitas kenaikan suku bunga pada September turun dari 67 persen menjadi 63 persen, didukung optimisme terhadap perkembangan geopolitik.
Menurut Rully, Gubernur The Fed lebih berhati-hati (dovish) mengenai kondisi inflasi AS ke depan karena dampak dari kenaikan harga minyak di semester pertama dan pengaruhnya terhadap inflasi di semester kedua.
Kendati begitu, kondisi data tenaga kerja lebih mengkhawatirkan The Fed yang dampaknya akan lebih dalam terhadap perekonomian AS.
“Dari domestik, masih menjadi faktor pemberat bagi penguatan rupiah terkait data-data ekonomi antara lain ruang fiskal, defisit neraca perdagangan, dan cadangan devisa,” ungkap dia.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
