Rismon Bantah Tudingan Jusuf Kalla Jadi Bohir Kasus Ijazah Jokowi
- account_circle say say
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Ahli digital forensik Rismon Sianipar bersama Wakil Presiden Indonesia Gibran Raka Bumi
JAMBISNIS.COM – Ahli digital forensik Rismon Sianipar membantah keras tudingan yang menyebut dirinya pernah menyatakan Jusuf Kalla sebagai pendana atau bohir dalam polemik dugaan ijazah palsu Joko Widodo.
Melalui kuasa hukumnya, Jahmada Girsang, Rismon menegaskan bahwa pernyataan tersebut tidak pernah disampaikan. Ia menyebut potongan video yang beredar luas di media sosial merupakan hasil manipulasi teknologi Artificial Intelligence (AI).
“Itu olahan AI, Rismon tidak pernah menyebut nama Pak JK,” ujar Jahmada kepada wartawan.
Pihak Rismon menilai informasi yang beredar telah masuk kategori hoaks karena berasal dari konten yang dimanipulasi secara digital. Video yang beredar dinilai tidak bisa dijadikan dasar tuduhan karena tidak autentik.
Meski begitu, pihaknya belum memberikan tanggapan lebih jauh terkait rencana pelaporan yang akan dilakukan Jusuf Kalla ke aparat kepolisian.
“Semua laporan nanti akan diuji di SPKT dengan bukti awal yang ada,” tambahnya.
Sebelumnya, Jusuf Kalla menyatakan akan melaporkan tudingan yang menyebut dirinya sebagai pendana dalam polemik ijazah Jokowi ke Bareskrim Polri.
JK menegaskan bahwa dirinya tidak pernah terlibat dalam isu tersebut, termasuk dalam dugaan aliran dana sebesar Rp5 miliar yang ramai diperbincangkan di ruang digital.
“Saya pastikan itu tidak benar,” tegas JK dalam konferensi pers di Jakarta.
Ia juga memastikan tidak memiliki keterkaitan dengan pihak-pihak yang sebelumnya mengangkat isu ijazah tersebut, seperti Roy Suryo maupun pihak lainnya.
Kasus dugaan ijazah palsu yang menyeret nama Presiden Joko Widodo kembali menjadi sorotan publik setelah munculnya berbagai klaim dan konten viral di media sosial.
Munculnya dugaan manipulasi berbasis AI dalam kasus ini semakin memperkeruh situasi, sekaligus menimbulkan kekhawatiran terkait penyebaran disinformasi di era digital.
Polemik ini diperkirakan masih akan berlanjut, seiring langkah hukum yang akan ditempuh berbagai pihak untuk mengklarifikasi tuduhan yang beredar.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar