Bahagia untuk Siapa? Saat Petugas Kebersihan Masih Dibayar Tak Layak
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Jum, 9 Jan 2026
- comment 0 komentar

Senyum Walikota Jambi Maulana berfoto bersama dengan petugas kebersihan kota Jambi
JAMBISNIS.COM – Di balik wajah Kota Jambi yang setiap pagi tampak bersih, rapi, dan disebut-sebut sebagai kota yang “bahagia”, ada kisah getir petugas kebersihan yang setiap hari berjibaku dengan sampah beraroma busuk. Saat sebagian warga masih terlelap, mereka sudah berada di jalanan, mengais sisa-sisa kehidupan kota yang dibuang tanpa pikir panjang.
Bau menyengat menusuk hidung, tangan kotor, dan ancaman penyakit menjadi bagian dari rutinitas yang tak bisa mereka tolak. Namun ironisnya, pengorbanan itu selama ini dibayar dengan upah yang jauh dari kata layak.
Selama bertahun-tahun, petugas kebersihan Kota Jambi hanya menerima upah Rp65.750 per hari. Angka yang nyaris tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga, apalagi untuk biaya kesehatan akibat risiko kerja yang mereka hadapi setiap hari.
Ketimpangan itulah yang akhirnya mendorong mereka turun ke jalan. Dengan seragam kerja dan wajah lelah, para petugas kebersihan menggelar aksi unjuk rasa, menuntut kenaikan upah demi kesejahteraan keluarga mereka. Aksi itu bukan untuk kemewahan, melainkan sekadar agar dapur tetap mengepul.
Namun hasil perjuangan tersebut terasa pahit. Wali Kota Maulana, yang disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup Mahruzar, menyatakan bahwa kenaikan gaji petugas kebersihan hanya sebesar Rp10.000 per hari. Dengan demikian, upah yang diterima kini menjadi Rp75.750 per hari.
Di saat yang sama, pengawas pengangkutan persampahan non-PNS mengalami kenaikan dari Rp75.000 menjadi Rp100.000 per hari. Kebijakan ini pun memunculkan rasa pilu di kalangan petugas kebersihan lapangan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan sampah.
Mereka yang membersihkan kota agar orang lain bisa hidup nyaman, justru harus pulang dengan bau sampah yang melekat di tubuh dan kegelisahan tentang masa depan keluarga. Tanpa mereka, wajah Kota Jambi tak akan seindah dan “sebahagia” seperti yang hari ini dipromosikan.
Perjuangan petugas kebersihan adalah cermin ketimpangan yang masih nyata. Di balik senyum kota yang bersih, ada air mata yang jatuh diam-diam, menunggu keadilan yang belum sepenuhnya berpihak.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar