Rupiah Kini Rp16.631 per Dolar AS: Menguat 0,19 persen
- account_circle darmanto zebua
- calendar_month Sel, 2 Des 2025
- comment 0 komentar

ILUSTRASI: Rupiah menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (2/12/2025), menjadi Rp16.631 per dolar Amerika Serikat (AS). (F:Ist)
JAMBISNIS.COM- Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Selasa (2/12/2025). Rupiah menguat 32 poin atau 0,19 persen menjadi Rp16.631 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya Rp16.663 per dolar AS.
Pada saat yang sama, indeks dolar AS terpantau naik 0,01% ke posisi 99,42.
Berbeda dengan rupiah, sejumlah mata uang di Asia lainnya mengalami pelemahan. Yen Jepang melemah 0,09%, dolar Hong Kong melemah 0,02%, dolar Singapura melemah 0,01%, dan won Korea Selatan melemah 0,09%.
Selain itu, yuan China melemah 0,06%, rupee India melemah 0,11%, dan baht Thailand melemah 0,15%.
Dilansir Bisnis.com, Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi memperkirakan pada perdagangan hari ini, mata uang rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif tetapi berpotensi ditutup menguat di rentang Rp16.630–Rp16.670 per dolar AS.
Telah terdapat sejumlah sentimen yang menyertai pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini. Dari luar negeri, dolar AS melemah pada awal Desember akibat bergesernya ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan Bank Sentral Amerika Serikat.
Dia menjelaskan bahwa pelaku pasar kini memperkirakan peluang 87% The Federal Reserve memangkas suku bunga 25 basis poin pada pertemuan pekan depan. Perkiraan ini berdasarkan perangkat CME FedWatch.
Ekspektasi pelonggaran ini, lanjutnya, turut diperkuat oleh laporan bahwa penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett menjadi kandidat terkuat Ketua The Fed berikutnya yang dinilai lebih dovish. Pasar juga menanti data ekonomi penting AS, mulai dari PMI Manufaktur ISM, ISM Jasa, produksi industri, ADP employment, hingga klaim pengangguran.
Di sisi geopolitik, tensi meningkat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin menegaskan operasi militer di Ukraina akan terus berlanjut hingga Kiev menarik pasukan dari seluruh wilayah yang diklaim Moskow.
Dari dalam negeri, Ibrahim menyampaikan bahwa kabar positif dari stabilnya kinerja neraca perdagangan dan pemulihan sektor manufaktur. BPS mencatat surplus perdagangan US$2,39 miliar pada Oktober 2025, memperpanjang tren surplus menjadi 66 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Surplus perdagangan itu terutama berasal dari komoditas non-migas seperti minyak nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.
Sementara itu, ekspor tercatat turun 2,31% year on year (YoY), terutama karena anjloknya ekspor migas, sementara impor turun 1,15% YoY. Dari sektor manufaktur, Ibrahim menuturkan PMI Indonesia naik ke level 53,3 pada November 2025, menjadi ekspansi keempat secara beruntun dan tertinggi dalam beberapa bulan terakhir. Peningkatan ini didorong oleh kenaikan output dan pesanan baru, meskipun permintaan ekspor masih melemah.(*)
- Penulis: darmanto zebua
- Editor: Darmanto Zebua

Saat ini belum ada komentar