Minyak Murni dari Laut Jabar, Produksi Migas Nasional Kembali Menguat
- account_circle -
- calendar_month 19 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pengeboran minyak lepas pantai di utara Jawa Barat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kinerja produksi migas lepas pantai di utara Jawa Barat kembali menunjukkan peningkatan. PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) mencatat awal produksi tinggi dari sumur pengembangan LLA-6 di Platform LLA dengan capaian 1.321 barel minyak per hari (BOPD) dan gas sebesar 2 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD).
Menariknya, produksi hidrokarbon dari sumur minyak tersebut mengalir secara natural dengan kadar air atau Basic Sediment and Water (BSW) mencapai 0%, yang berarti minyak yang dihasilkan tergolong murni tanpa kandungan air.
Senior Manager Subsurface Development & Planning PHE ONWJ, Adang Sukmatiawan, mengatakan keberhasilan tersebut merupakan hasil evaluasi dan pembelajaran dari pengeboran sumur sebelumnya.
“Keberhasilan sumur LLA-6 ini kami dapatkan dari lesson learned Sumur LLE-5ST yang kami bor tahun lalu,” ujar Adang.
Menurutnya, karena lapisan target yang dibidik sama, perusahaan melakukan penyempurnaan strategi dan formulasi pengeboran sehingga hasil produksi menjadi lebih optimal. Sumur LLA-6 mulai dibor pada 24 Maret 2026 menggunakan Rig PVD-II dan mencapai kedalaman akhir 5.407 feet measured depth (ftMD) atau setara 3.561 feet true vertical depth (ftTVD). Seluruh proses pengeboran hingga uji alir produksi pada 2 Mei 2026 disebut selesai hanya dalam waktu 33 hari.
LLA-6 menjadi sumur pertama yang dibor kembali di Anjungan LLA setelah lebih dari 24 tahun tidak ada aktivitas pengeboran di platform tersebut. Dalam prosesnya, tim subsurface menghadapi berbagai tantangan teknis mulai dari risiko shallow gas hazard, bubble dasar laut, hingga potensi kehilangan fluida pengeboran pada lapisan tertentu. Namun, melalui penerapan studi geomekanik dan program pengeboran terintegrasi, pengeboran berhasil diselesaikan dengan baik.
Data terbaru dari sumur tersebut juga disebut membuka potensi pengembangan baru di area selatan lapisan LL-30 untuk pengeboran berikutnya.
Selain menghasilkan produksi tinggi, proyek ini juga disebut mencatat efisiensi biaya signifikan. Berdasarkan estimasi lapangan terkini, biaya pengeboran sumur LLA-6 hanya mencapai sekitar 61,5% dari Authorization for Expenditure (AFE) yang telah disetujui SKK Migas. Artinya, perusahaan mampu melakukan penghematan hampir 40% dari anggaran awal.
General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, menilai capaian tersebut menjadi bukti implementasi strategi operasi yang lebih aman, cepat, dan efisien.
“Eksekusi rencana kerja yang aman, tuntas lebih cepat, dan dengan hasil yang jauh lebih baik ini merupakan pembuktian dari spirit PHE ONWJ, yakni Safer, Faster, Better,” ujar Muzwir.
Setelah keberhasilan LLA-6, PHE ONWJ kini langsung mengalihkan fokus ke pengeboran sumur berikutnya, yakni LLA-5 dan LLA-7. Perusahaan berharap produksi dari sumur-sumur baru tersebut dapat menyamai bahkan melampaui capaian LLA-6 sebagai bagian dari upaya meningkatkan produksi migas nasional dan memperkuat ketahanan energi domestik.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua

