Layanan Bongkar Muat Pelabuhan Dinilai Buruk, Pelaku Usaha Logistik Minta Pemerintah Turun Tangan
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Jum, 6 Feb 2026
- comment 0 komentar

Aktivitas bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Pelaku usaha logistik menilai rendahnya produktivitas bongkar muat di sejumlah pelabuhan meningkatkan waktu tunggu kapal dan biaya operasional.
JAMBISNIS.COM – Pelaku usaha logistik dan kepelabuhanan meminta pemerintah pusat segera turun tangan menyikapi memburuknya layanan bongkar muat barang di sejumlah pelabuhan nasional. Produktivitas yang rendah dan keterbatasan fasilitas dinilai memicu keterlambatan pengiriman serta meningkatkan biaya operasional.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Trismawan Sanjaya mengatakan, keluhan datang dari hampir seluruh pelabuhan domestik, terutama terkait keterbatasan jumlah dan kinerja alat bongkar muat yang menyebabkan antrean kapal semakin panjang.
“Keluhan paling banyak terkait keterbatasan alat bongkar muat dan rendahnya produktivitas, sehingga waktu tunggu kapal menjadi lebih lama,” ujar Sanjaya, Jumat (6/2/2026).
Ia menambahkan, berdasarkan laporan anggota ALFI di Jawa Tengah dan Jawa Timur, keterlambatan pengiriman barang kerap terjadi baik saat keberangkatan maupun saat tiba di tujuan. Kondisi ini disebabkan molornya jadwal sandar kapal serta rendahnya produktivitas bongkar muat di pelabuhan.
Menurut Sanjaya, aktivitas logistik domestik melalui jalur laut terus meningkat. Oleh karena itu, peningkatan layanan pelabuhan domestik perlu menjadi prioritas agar rantai pasok berjalan lebih efisien dan tidak membebani konsumen dengan biaya tambahan.
“Jika tidak segera dibenahi, biaya logistik akan terus naik dan berdampak pada harga barang di tingkat konsumen,” kata dia.
Keluhan serupa juga disampaikan ALFI Jawa Timur. Ketua ALFI Jawa Timur Sebastian Wibisono menyebut waktu tunggu kapal di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, mengalami peningkatan signifikan. Keterbatasan alat bongkar muat, khususnya crane yang sudah berusia tua, membuat proses bongkar muat berlangsung jauh lebih lambat dari kapasitas ideal.
Di Pelabuhan Belawan, Medan, masalah pendangkalan alur pelayaran turut memperparah kondisi. Ketua ALFI Sumatra Utara Surianto Butong mengatakan, pendangkalan menyebabkan kapal berukuran besar sulit bersandar, sehingga pengangkutan barang harus menggunakan kapal berkapasitas lebih kecil.
Menanggapi keluhan tersebut, PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo menyatakan layanan bongkar muat di sejumlah terminal peti kemas di Pelabuhan Tanjung Perak berjalan sesuai perencanaan. Pelindo juga membantah adanya antrean kapal hingga enam hari.
Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas Widyaswendra menegaskan, seluruh kapal telah memiliki jadwal sandar yang terencana melalui sistem berthing window.
“Kami memastikan tidak ada keterlambatan signifikan yang berdampak pada jadwal sandar kapal,” ujarnya.
Meski demikian, Pelindo mengakui masih perlu melakukan pembenahan. Perseroan berencana mendatangkan alat bongkar muat baru pada 2026, termasuk quay container crane (QCC) dan rubber tyred gantry (RTG) di sejumlah terminal.
Pelindo menyatakan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas layanan bongkar muat di seluruh wilayah kerja, dari Belawan hingga Merauke.
- Penulis: syaiful amri


Saat ini belum ada komentar