Ekonomi China Melambat Tajam pada Oktober 2025, Investasi dan Industri Tertekan Krisis Properti
- account_circle syaiful amri
- calendar_month Ming, 16 Nov 2025
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Perekonomian China kembali menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan pada Oktober 2025. Serangkaian data terbaru yang dirilis Biro Statistik Nasional China (NBS) menegaskan bahwa pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih rapuh, terutama akibat krisis properti berkepanjangan, lemahnya permintaan domestik, hingga tekanan eksternal dari melemahnya ekonomi global.
Kondisi ini menambah kekhawatiran investor dan pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan China tahun ini, apalagi pemerintah Beijing masih berjuang mengendalikan dampak dari sektor properti yang selama bertahun-tahun menjadi mesin penggerak utama ekonomi nasional.
NBS melaporkan investasi aset tetap yang mencakup investasi di bidang manufaktur, infrastruktur, dan properti turun 1,7% dalam periode Januari–Oktober 2025. Penurunan ini jauh lebih tajam dibanding kontraksi 0,5% pada periode Januari–September.
Hasil tersebut juga lebih buruk dari perkiraan pasar yang memprediksi kontraksi hanya 0,8%. Angka negatif ini menandai kontraksi pertama sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020, memperlihatkan tekanan luar biasa pada aktivitas pembangunan dan penanaman modal di China.
Sektor properti tetap menjadi titik paling lemah. Dengan banyaknya proyek macet, pengembang yang gagal memenuhi kewajiban, dan permintaan pembelian rumah yang terus menurun, kontribusi sektor ini terus menyusut. Kondisi ini mempengaruhi investasi pemerintah daerah dan memperlambat pengembangan infrastruktur baru.
Produksi industri China pada Oktober 2025 hanya naik 4,9% secara tahunan, melambat drastis dari 6,5% pada September. Data ini juga meleset dari ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan 5,5%.
Pelemahan ini salah satunya dipicu oleh libur nasional panjang di awal bulan, yang membuat banyak pabrik memperlambat atau menghentikan operasional untuk sementara. Akan tetapi, analis menilai pelemahan ini bukan hanya karena faktor musiman, melainkan juga akibat menurunnya pesanan baru dari dalam dan luar negeri.
Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur juga turun ke level terendah dalam enam bulan terakhir. Pelemahan pesanan ekspor disebut sebagai salah satu penyebab, menyusul melambatnya pertumbuhan di Amerika Serikat dan Eropa.
Kinerja konsumsi masyarakat China belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Penjualan ritel tumbuh 2,9% pada Oktober secara tahunan, hanya sedikit di atas ekspektasi 2,8%, namun tetap lebih rendah dibanding pertumbuhan 3% pada September.
Menurut analis, konsumsi rumah tangga China masih tertahan oleh rendahnya kepercayaan konsumen, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi jangka panjang, dan dampak krisis properti yang menggerus kekayaan (wealth effect) keluarga kelas menengah China.
Beberapa sektor konsumsi seperti barang mewah, elektronik, dan perjalanan domestik menunjukkan perlambatan, sementara sektor makanan dan kebutuhan dasar masih relatif stabil.
Di tengah kelemahan ekonomi, tingkat pengangguran perkotaan China justru turun dari 5,2% menjadi 5,1%. Namun penurunan ini lebih disebabkan oleh faktor musiman dan meningkatnya jumlah pekerja sementara selama musim liburan.
Ekonom memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja tetap rentan, terutama bagi usia muda yang sejak tahun lalu mengalami tingkat pengangguran tertinggi dalam sejarah modern China.
Sektor properti merupakan faktor utama yang membebani ekonomi China sejak tiga tahun terakhir. Harga rumah di berbagai kota besar terus terkoreksi, penjualan unit baru melambat, dan beberapa raksasa pengembang masih bergelut dengan masalah utang.
Kondisi ini membuat rumah tangga China enggan berbelanja dan menahan diri dari pembelian barang non-esensial. Selain itu, pemerintah daerah yang biasanya mengandalkan penjualan lahan untuk pendapatan juga mengalami tekanan fiskal yang semakin berat.
Berbagai stimulus telah digulirkan Beijing, termasuk relaksasi kredit pemilikan rumah dan dukungan kepada pengembang yang sedang membangun proyek, namun dampaknya belum terlihat signifikan.
Ekonomi China diperkirakan akan menghadapi sejumlah hambatan hingga akhir 2025. Permintaan global masih melemah, krisis properti belum menunjukkan pemulihan berarti, dan konsumsi domestik masih rapuh.
Meski pemerintah berjanji akan menambah stimulus fiskal dan moneter, para analis menilai bahwa pemulihan ekonomi China akan berjalan lambat dan bertahap.
- Penulis: syaiful amri

Saat ini belum ada komentar