Senin, 24 Agu 2026
light_mode
Beranda » Internasional » Ekonomi China Melambat Tajam pada Oktober 2025, Investasi dan Industri Tertekan Krisis Properti

Ekonomi China Melambat Tajam pada Oktober 2025, Investasi dan Industri Tertekan Krisis Properti

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – Perekonomian China kembali menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan pada Oktober 2025. Serangkaian data terbaru yang dirilis Biro Statistik Nasional China (NBS) menegaskan bahwa pemulihan ekonomi Negeri Tirai Bambu masih rapuh, terutama akibat krisis properti berkepanjangan, lemahnya permintaan domestik, hingga tekanan eksternal dari melemahnya ekonomi global.

Kondisi ini menambah kekhawatiran investor dan pelaku pasar terhadap prospek pertumbuhan China tahun ini, apalagi pemerintah Beijing masih berjuang mengendalikan dampak dari sektor properti yang selama bertahun-tahun menjadi mesin penggerak utama ekonomi nasional.

NBS melaporkan investasi aset tetap yang mencakup investasi di bidang manufaktur, infrastruktur, dan properti turun 1,7% dalam periode Januari–Oktober 2025. Penurunan ini jauh lebih tajam dibanding kontraksi 0,5% pada periode Januari–September.

Hasil tersebut juga lebih buruk dari perkiraan pasar yang memprediksi kontraksi hanya 0,8%. Angka negatif ini menandai kontraksi pertama sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020, memperlihatkan tekanan luar biasa pada aktivitas pembangunan dan penanaman modal di China.

Sektor properti tetap menjadi titik paling lemah. Dengan banyaknya proyek macet, pengembang yang gagal memenuhi kewajiban, dan permintaan pembelian rumah yang terus menurun, kontribusi sektor ini terus menyusut. Kondisi ini mempengaruhi investasi pemerintah daerah dan memperlambat pengembangan infrastruktur baru.

Produksi industri China pada Oktober 2025 hanya naik 4,9% secara tahunan, melambat drastis dari 6,5% pada September. Data ini juga meleset dari ekspektasi analis yang memperkirakan pertumbuhan 5,5%.

Pelemahan ini salah satunya dipicu oleh libur nasional panjang di awal bulan, yang membuat banyak pabrik memperlambat atau menghentikan operasional untuk sementara. Akan tetapi, analis menilai pelemahan ini bukan hanya karena faktor musiman, melainkan juga akibat menurunnya pesanan baru dari dalam dan luar negeri.

Indeks Manajer Pembelian (PMI) manufaktur juga turun ke level terendah dalam enam bulan terakhir. Pelemahan pesanan ekspor disebut sebagai salah satu penyebab, menyusul melambatnya pertumbuhan di Amerika Serikat dan Eropa.

Kinerja konsumsi masyarakat China belum menunjukkan pemulihan yang kuat. Penjualan ritel tumbuh 2,9% pada Oktober secara tahunan, hanya sedikit di atas ekspektasi 2,8%, namun tetap lebih rendah dibanding pertumbuhan 3% pada September.

Menurut analis, konsumsi rumah tangga China masih tertahan oleh rendahnya kepercayaan konsumen, kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi jangka panjang, dan dampak krisis properti yang menggerus kekayaan (wealth effect) keluarga kelas menengah China.

Beberapa sektor konsumsi seperti barang mewah, elektronik, dan perjalanan domestik menunjukkan perlambatan, sementara sektor makanan dan kebutuhan dasar masih relatif stabil.

Di tengah kelemahan ekonomi, tingkat pengangguran perkotaan China justru turun dari 5,2% menjadi 5,1%. Namun penurunan ini lebih disebabkan oleh faktor musiman dan meningkatnya jumlah pekerja sementara selama musim liburan.

Ekonom memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja tetap rentan, terutama bagi usia muda yang sejak tahun lalu mengalami tingkat pengangguran tertinggi dalam sejarah modern China.

Sektor properti merupakan faktor utama yang membebani ekonomi China sejak tiga tahun terakhir. Harga rumah di berbagai kota besar terus terkoreksi, penjualan unit baru melambat, dan beberapa raksasa pengembang masih bergelut dengan masalah utang.

Kondisi ini membuat rumah tangga China enggan berbelanja dan menahan diri dari pembelian barang non-esensial. Selain itu, pemerintah daerah yang biasanya mengandalkan penjualan lahan untuk pendapatan juga mengalami tekanan fiskal yang semakin berat.

Berbagai stimulus telah digulirkan Beijing, termasuk relaksasi kredit pemilikan rumah dan dukungan kepada pengembang yang sedang membangun proyek, namun dampaknya belum terlihat signifikan.

Ekonomi China diperkirakan akan menghadapi sejumlah hambatan hingga akhir 2025. Permintaan global masih melemah, krisis properti belum menunjukkan pemulihan berarti, dan konsumsi domestik masih rapuh.

Meski pemerintah berjanji akan menambah stimulus fiskal dan moneter, para analis menilai bahwa pemulihan ekonomi China akan berjalan lambat dan bertahap.

  • Penulis: syaiful amri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Start Sempurna, Tiga Kartu Merah! Meksiko Libas Afrika Selatan

    Start Sempurna, Tiga Kartu Merah! Meksiko Libas Afrika Selatan

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Tuan rumah bersama Piala Dunia 2026, Meksiko, memulai turnamen dengan kemenangan meyakinkan setelah mengalahkan Afrika Selatan 2-0 pada laga Grup A di Stadion Azteca, Kamis (11/6/2026) waktu setempat. Kemenangan El Tri ditentukan oleh gol spektakuler Julian Quinones dan sundulan Raul Jimenez. Pertandingan juga diwarnai tiga kartu merah yang membuat laga berlangsung panas hingga […]

  • Toba Pulp Bantah Jadi Penyebab Banjir Sumatra, Klaim Patuh Regulasi Lingkungan

    Toba Pulp Bantah Jadi Penyebab Banjir Sumatra, Klaim Patuh Regulasi Lingkungan

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT Toba Pulp Lestari menegaskan tidak bertanggung jawab atas banjir dahsyat yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra dan menewaskan lebih dari 600 orang. Perusahaan menyampaikan bantahan resmi melalui surat kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (1/12/2025). “Perseroan dengan tegas membantah tuduhan bahwa operasional menjadi penyebab bencana ekologi,” ujar Corporate Secretary Toba Pulp […]

  • Rupiah Terus Merosot ke Level Rp16.746 per Dolar AS

    Rupiah Terus Merosot ke Level Rp16.746 per Dolar AS

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah masih belum bangkit dari zona merah. Dilansir dari Antara, Selasa (6/1/20260, rupiah dibuka pada level Rp16.746 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah melemah 6 poin atau 0,04 persen dibanding penutupan pada Senin yang berada di level Rp 16.740 dolar AS. Sementara itu, indeks dolar naik 98,28. Saat ini, pergerakan mata uang […]

  • Kertajati Disiapkan Jadi Pusat Bengkel Hercules Asia

    Kertajati Disiapkan Jadi Pusat Bengkel Hercules Asia

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Pemerintah mulai menyiapkan Bandara Kertajati sebagai pusat perawatan pesawat Hercules se-Asia setelah menerima tawaran dari Amerika Serikat untuk memusatkan layanan tersebut di Indonesia, dikutip dari CNN Indonesia. Kementerian Pertahanan (Kemhan) mengungkapkan rencana pengembangan fasilitas Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) pesawat C-130/Hercules di Kertajati sebagai bagian dari penguatan industri pertahanan dan aviasi nasional. Menteri […]

  • Cek Harga Emas Antam di Jambi, Naik atau Turun

    Cek Harga Emas Antam di Jambi, Naik atau Turun

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Harga emas batangan produksi Antam tidak mengalami perubahan hari ini. Kondisi ini menunjukkan harga emas masih bergerak stagnan setelah sempat melemah pada perdagangan Kamis (23/4/2026). Berdasarkan data Jambisnis.com dari laman Logam Mulia pada Jumat (24/4/2026), harga emas Antam stabil di angka Rp 2.805.000 per gram. Sama seperti posisi sebelumnya tanpa kenaikan maupun penurunan. […]

  • Menteri PKP Maruarar Sirait Pastikan Ekosistem Perumahan Nasional Tanpa Monopoli

    Menteri PKP Maruarar Sirait Pastikan Ekosistem Perumahan Nasional Tanpa Monopoli

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait memastikan ekosistem perumahan nasional saat ini berjalan sehat dan tidak dikuasai oleh satu pihak atau monopoli. Menurut dia, kondisi tersebut terlihat dari adanya kebebasan bagi para pelaku di sektor perumahan, baik pengembang, perbankan, maupun konsumen, untuk menentukan pilihan dalam proses pembiayaan maupun pembangunan rumah. “Ekosistem […]

expand_less