BI-Rate Diprediksi Naik ke 6 Persen! Ini Pemicu Tekanannya
- account_circle -
- calendar_month 46 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah masih tertahan di dekat level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Di tengah tekanan mata uang Garuda dan risiko arus keluar modal asing, keputusan suku bunga Bank Indonesia (BI) pada Rabu (21/10/2026) menjadi perhatian pelaku pasar.
Mengutip Antara, rupiah bergerak stagnan sebesar 0 poin atau 0,00 persen pada perdagangan Rabu, bertahan di level Rp17.992 per dolar AS. Posisi tersebut sama dengan penutupan perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,10 persen ke posisi 101,803.
Pasar kini mencermati keputusan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, terutama apakah suku bunga acuan atau BI-Rate akan dipertahankan di level 5,75 persen atau dinaikkan menjadi 6 persen.
Perbedaan proyeksi muncul di tengah tekanan terhadap rupiah, ketidakpastian kebijakan suku bunga AS, serta usulan reklasifikasi pasar saham Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Usulan MSCI dan Arus Modal Asing Jadi Sorotan
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai tekanan rupiah dan risiko arus keluar modal setelah usulan reklasifikasi MSCI dapat memperkuat alasan bagi BI untuk menaikkan suku bunga apabila pelemahan mata uang semakin intensif.
Meski demikian, LPEM memperkirakan BI masih dapat mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada Oktober ini sembari menyiapkan respons jika tekanan terhadap rupiah meningkat.
Menurut Riefky, ruang gerak BI semakin terbatas akibat ketidakpastian eksternal dan tekanan pasar domestik. Inflasi AS yang kembali meningkat berpotensi membuat suku bunga Negeri Paman Sam bertahan tinggi lebih lama. Di dalam negeri, kenaikan harga pangan dan bahan bakar juga mendekatkan inflasi ke batas atas sasaran BI.
Data arus modal menunjukkan, pada pertengahan September hingga pertengahan Oktober 2026, Indonesia mencatat arus keluar portofolio asing bersih sekitar USD 0,05 miliar. Arus masuk USD 0,69 miliar ke pasar obligasi pemerintah diimbangi arus keluar USD 0,73 miliar dari pasar saham.
Tekanan tersebut turut membebani rupiah. Pada periode 15 September hingga 14 Oktober 2026, rupiah melemah 1,22 persen secara bulanan, dari Rp17.680 menjadi Rp17.895 per dolar AS. Sejak awal tahun, pelemahannya tercatat mencapai 8,30 persen.
Ekonom Danamon dan Permata Bank Perkirakan Bunga Naik
Berbeda dengan proyeksi LPEM, Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.
Faiz menilai usulan reklasifikasi MSCI dapat memengaruhi keputusan investor bahkan sebelum keputusan final ditetapkan. Investor berpotensi mengurangi eksposur lebih awal sehingga tekanan terhadap rupiah perlu diantisipasi.
Menurutnya, kenaikan suku bunga diperlukan untuk memperkuat daya tarik aset berdenominasi rupiah di tengah tingginya imbal hasil global dan kebutuhan pembiayaan defisit transaksi berjalan.
Bank Danamon bahkan memperkirakan BI-Rate berpotensi mencapai 6,25 persen hingga akhir 2026 apabila tekanan eksternal berlanjut.
Faiz menambahkan, kenaikan bunga perlu disertai intervensi valuta asing, penguatan insentif lindung nilai, serta penawaran imbal hasil instrumen moneter yang kompetitif. Kebijakan makroprudensial juga perlu menjaga pembiayaan sektor produktif agar stabilisasi rupiah tidak memberikan tekanan berlebihan terhadap pertumbuhan ekonomi.
Sementara itu, Kepala Ekonom PermataBank Josua Pardede juga memperkirakan kenaikan BI-Rate sebesar 25 basis poin, meskipun peluang mempertahankan suku bunga 5,75 persen masih terbuka.
Tim ekonom PermataBank memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 60 persen dan peluang mempertahankannya sebesar 40 persen. Penilaian tersebut didasarkan pada meningkatnya tekanan terhadap rupiah dan perubahan ekspektasi pasar.
Tekanan pasar juga terlihat dari kenaikan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menjadi sekitar 7,44 persen pada 20 Oktober 2026, meningkat sekitar 137 basis poin sejak akhir 2025.
Meski demikian, Josua mengingatkan BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 basis poin pada Mei–Juni 2026. Dampak pengetatan sebelumnya perlu diperhitungkan sebelum keputusan tambahan diambil.
Keputusan BI akan menjadi perhatian dunia usaha dan investor karena berpengaruh terhadap biaya pembiayaan, daya tarik investasi, serta kondisi likuiditas. Bagi pelaku usaha yang bergantung pada bahan baku impor, pergerakan rupiah juga menjadi faktor penting dalam menentukan biaya produksi dan strategi harga.
Dengan rupiah masih bertahan di dekat Rp18.000 per dolar AS, arah kebijakan moneter berikutnya menjadi salah satu faktor yang dicermati pasar untuk menilai prospek stabilitas nilai tukar dan perekonomian Indonesia hingga akhir tahun.(*)
Catatan Redaksi: Seluruh informasi merupakan hasil penghimpunan data dari berbagai sumber
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
