Kredit Korporasi Jambi Tumbuh 14,55%, Sektor Pertambangan Melonjak 224%
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Kredit korporasi tumbuh 14,55% secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 8,06% pada Triwulan I 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Penyaluran kredit korporasi di Provinsi Jambi mencatat pertumbuhan pada Triwulan II 2026. Berdasarkan Laporan Perekonomian Provinsi Jambi Agustus 2026 yang diterbitkan Bank Indonesia, kredit korporasi tumbuh 14,55% secara tahunan atau year-on-year (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan 8,06% pada Triwulan I 2026.
Berdasarkan sektor ekonomi, kredit pertambangan mencatat pertumbuhan tertinggi di antara sektor yang disebutkan, yakni 224% secara tahunan. Pertumbuhan tersebut meningkat dibandingkan Triwulan I 2026 yang tercatat sebesar 55,57%.
Kredit sektor industri tumbuh 19,44% secara tahunan, sedangkan sektor perdagangan mencatat pertumbuhan 14,36%. Di sisi lain, kredit sektor pertanian tumbuh 0,75%, melambat dibandingkan Triwulan I 2026 yang mencapai 3,56%. Perbedaan tersebut menunjukkan dinamika pertumbuhan kredit yang tidak seragam antarsektor ekonomi.
Dari sisi penghimpunan dana, dana pihak ketiga (DPK) perbankan di Provinsi Jambi mencapai Rp56,18 triliun pada Triwulan II 2026, tumbuh 15,34% secara tahunan. Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan Triwulan I 2026 yang sebesar 11,60%. Giro, deposito, dan tabungan masing-masing tumbuh 18,99%, 22,76%, dan 11,07% secara tahunan.
Sementara itu, perekonomian Provinsi Jambi tumbuh 4,15% secara tahunan pada Triwulan II 2026, melambat dibandingkan pertumbuhan 4,33% pada triwulan sebelumnya. Bank Indonesia mengaitkan perlambatan tersebut dengan kinerja lapangan usaha pertanian yang dipengaruhi pergeseran musim panen komoditas hortikultura.
Perkembangan kredit dan penghimpunan dana tersebut memberikan gambaran mengenai kondisi intermediasi perbankan di Jambi. Namun, pertumbuhan kredit korporasi tidak secara langsung menggambarkan pertumbuhan pembiayaan bagi UMKM maupun pemerataan akses kredit di seluruh wilayah.
Bagi pelaku usaha di Kota Jambi dan kabupaten lainnya, akses pembiayaan perbankan dapat menjadi salah satu instrumen untuk mendukung kebutuhan modal kerja, pengadaan peralatan, pembelian persediaan, dan pengembangan usaha. Pemanfaatannya tetap bergantung pada persyaratan kredit, kelayakan usaha, kemampuan membayar, serta penilaian risiko oleh bank.
Ke depan, tantangan pembiayaan daerah tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan kredit, tetapi juga dengan penyaluran dana yang produktif dan berkelanjutan. Ketersediaan data kredit UMKM, distribusi pembiayaan antarsektor, dan kualitas kredit diperlukan untuk menilai sejauh mana pertumbuhan pembiayaan mendukung pengembangan usaha serta perekonomian daerah.
- Penulis: say say
