Harga Minyak Dunia Naik Pagi Ini, Brent Tembus US$106 dan WTI US$96,92 Dipicu Ketegangan Iran
- account_circle say say
- calendar_month 7 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Harga minyak jenis Brent crude naik US$1,23 atau 1,17% menjadi US$106,3 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga menguat US$1,07 atau 1,12% ke posisi US$96,92 per barel.
JAMBISNIS.COM – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Jumat (24/4/2026) pagi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah, khususnya melibatkan Iran. Berdasarkan laporan pasar global, harga minyak jenis Brent crude naik US$1,23 atau 1,17% menjadi US$106,3 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) juga menguat US$1,07 atau 1,12% ke posisi US$96,92 per barel.
Kenaikan ini melanjutkan tren positif sehari sebelumnya, di mana kedua acuan minyak tersebut melonjak lebih dari 3% dan sempat naik hingga US$5 per barel. Lonjakan harga dipicu meningkatnya ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Sentimen utama datang dari aksi militer Iran di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas dunia. Iran sebelumnya merilis rekaman yang memperlihatkan pasukan komando menaiki kapal kargo, mempertegas kontrolnya atas salah satu chokepoint energi paling penting di dunia.
Selain itu, laporan aktivitas sistem pertahanan udara di Teheran yang merespons “target musuh” turut menambah ketegangan. Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan distribusi minyak dalam waktu dekat.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan Iran diduga telah memperkuat persenjataannya selama masa gencatan senjata. Meski demikian, ia menegaskan militer AS tetap memiliki kemampuan untuk merespons secara cepat.
Sejumlah analis menilai fase gencatan senjata saat ini hanya bersifat sementara. Jika perundingan antara AS dan Iran tidak menunjukkan kemajuan hingga akhir April, harga minyak berpotensi mencetak level tertinggi baru sepanjang tahun ini.
Di sisi lain, potensi konflik lanjutan juga dapat menekan pasokan global. Jika gangguan di Selat Hormuz berlangsung lebih lama, persediaan minyak dunia diperkirakan bisa turun di bawah rata-rata musiman dalam beberapa bulan ke depan, sehingga meningkatkan premi risiko harga minyak.
Meski upaya diplomasi masih berjalan, ketidakpastian tetap tinggi. Trump menegaskan tidak akan menetapkan tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan dengan Iran, meskipun peluang dialog masih terbuka.
Sementara itu, dinamika geopolitik lain juga turut memengaruhi sentimen pasar. Israel sebelumnya memberikan sinyal kesiapan untuk melanjutkan serangan terhadap Iran, meski terdapat kesepakatan perpanjangan gencatan senjata di kawasan lain.
Kondisi ini membuat pelaku pasar global tetap waspada terhadap potensi lonjakan harga energi yang dapat berdampak luas, termasuk pada inflasi, biaya logistik, dan stabilitas ekonomi dunia.
Pantau terus berita perkembangan ekonomi, saham, harga emas, dan harga sembako terkini secara cepat dan akurat di Jambisnis.com.
- Penulis: say say



Saat ini belum ada komentar