Harga Minyak Dunia Tembus US$104, Ketegangan Iran–AS dan Gangguan Pasokan Picu Kenaikan
- account_circle say say
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar

Harga minyak naik ke US$104 didorong kekhawatiran pasar terhadap pasokan global, meski terdapat sinyal diplomasi antara AS dan Iran untuk mengakhiri perang. (Foto: via REUTERS/MIRAFLORES PALACE)
JAMBISNIS.COM – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Rabu (1/4), bertahan di atas level psikologis US$100 per barel di tengah kekhawatiran pasar terhadap pasokan global yang masih terganggu akibat konflik di Timur Tengah.
Kontrak minyak mentah Brent pengiriman Juni tercatat naik 0,63 persen ke posisi US$104,63 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Mei menguat 0,95 persen menjadi US$102,34 per barel.
Kenaikan ini memperpanjang reli tajam sepanjang Maret, di mana harga Brent melonjak hingga 64 persen—menjadi kenaikan bulanan tertinggi sejak pencatatan data LSEG pada 1988.
Penguatan harga minyak terjadi meski muncul sinyal diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik. Pasar tetap berhati-hati lantaran belum ada kemajuan konkret dalam proses negosiasi.
Analis LSEG menyebut risiko terhadap pasokan global masih tinggi, terutama akibat serangan maritim yang berlanjut serta ancaman terhadap infrastruktur energi di kawasan konflik.
“Risiko terhadap pasokan tetap condong meningkat, didorong minimnya progres nyata diplomatik dan gangguan distribusi energi,” tulis analis dalam risetnya.
Harga minyak sempat terkoreksi pada perdagangan sebelumnya setelah muncul laporan yang belum terkonfirmasi terkait kesiapan Iran mengakhiri konflik. Namun, ketidakpastian yang masih tinggi membuat harga kembali pulih.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut operasi militer berpotensi berakhir dalam dua hingga tiga pekan. Kendati demikian, pelaku pasar menilai kerusakan infrastruktur energi akibat konflik dapat berdampak jangka panjang terhadap suplai minyak global.
Selain itu, gangguan di Selat Hormuz—jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak dan LNG dunia—turut menekan pasokan. Jalur tersebut belum sepenuhnya kembali beroperasi normal.
Di sisi lain, produksi minyak negara-negara anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) juga dilaporkan turun signifikan pada Maret, imbas pembatasan ekspor dan gangguan distribusi.
Kondisi tersebut mendorong revisi proyeksi harga minyak global. Dalam survei terbaru Reuters, harga Brent diperkirakan rata-rata mencapai US$82,85 per barel pada 2026, naik tajam dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar US$63,85.
- Penulis: say say

Saat ini belum ada komentar