Brent Turun ke Level US$98 Usai Trump Menyatakan Ini
- account_circle -
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar

JAMBISNIS.COM – Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi tajam setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam empat tahun terakhir. Penurunan ini dipicu pernyataan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang mengisyaratkan perang antara AS-Israel melawan Iran bisa berakhir “sangat segera”.
Sebelumnya, pasar global sempat guncang saat minyak mentah Brent melampaui angka US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 2022. Bahkan, Brent sempat menyentuh level tertinggi US$119,50 pada perdagangan Senin sebelum akhirnya ditutup merosot ke level US$98,96 per barel.
Dalam wawancara dengan CBS News sebagaimana dilansir Media Indonesia, Selasa (10/3/2026), Trump mengklaim perang di Iran sudah “sangat lengkap, hampir selesai”. Pernyataan ini langsung meredam kekhawatiran pasar. Selain itu, Trump mengungkapkan rencana agresif untuk mengamankan jalur pasokan energi global.
“Kapal-kapal mulai bergerak melalui Selat (Hormuz). Saya berpikir untuk mengambil alih kendali wilayah tersebut,” ujar Trump.
Langkah ini diambil mengingat Selat Hormuz merupakan jalur krusial yang dilewati sekitar 20% konsumsi minyak dunia. Penutupan jalur ini sebelumnya disebut oleh lembaga riset Rapidan Energy sebagai gangguan pasokan minyak terbesar dalam sejarah.
Tak hanya itu, sumber internal menyebut Trump tengah mempertimbangkan pengurangan sanksi minyak terhadap Rusia demi menekan harga komoditas di pasar global.
Meski harga mulai melandai, situasi di lapangan masih menunjukkan ketegangan. Produksi minyak di Irak dilaporkan runtuh hingga 70%, sementara Kuwait dan Uni Emirat Arab mulai memangkas produksi karena keterbatasan ruang penyimpanan akibat terhambatnya distribusi di Selat Hormuz.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmail Baghaei, memperingatkan bahwa kapal tanker harus tetap waspada. “Selama situasi belum aman, saya pikir semua tanker dan navigasi maritim harus sangat berhati-hati,” tuturnya kepada CNBC.
Menanggapi ketidakpastian ini, para menteri energi negara-negara G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual pada Selasa pagi. Fokus utama pertemuan adalah membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak darurat secara bersama-sama untuk menjaga stabilitas pasokan global.
Menteri Energi AS, Chris Wright, menyatakan optimismenya lalu lintas di Selat Hormuz akan segera pulih setelah ancaman terhadap kapal tanker berhasil dieliminasi. “Kita tidak lama lagi akan melihat dimulainya kembali lalu lintas kapal secara reguler melalui Selat Hormuz,” pungkasnya.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua


Saat ini belum ada komentar