Rupiah Menguat ke Rp17.857 per Dolar AS
- account_circle -
- calendar_month 23 menit yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan rupiah.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah akhirnya bangkit. Setelah sempat tertekan hingga mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS), mata uang Indonesia kembali menguat pada perdagangan Rabu (23/9/2026).
Mengutip Antara, rupiah hari ini berada di level Rp17.857 per dolar Amerika Serikat (AS). Rupiah menguat 27 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.884 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat tipis 0,01 persen ke posisi 100,612.
Pergerakan pasar keuangan domestik, termasuk rupiah, hari ini akan diwarnai penantian terhadap keputusan suku bunga BI.
BI dijadwalkan mengumumkan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini, setelah menggelar pertemuan selama dua hari. Pengumuman tersebut menjadi yang pertama bagi Destry Damayanti sejak dilantik sebagai Gubernur BI definitif pada 2 September.
RDG kali ini berlangsung di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya tekanan inflasi. Sedikitnya sembilan bank sentral telah menaikkan suku bunga, termasuk The Federal Reserve (The Fed) dan Bank of Japan (BOJ).
Berbagai sumber memperkirakan BI mempertahankan BI Rate di level 5,75%. Kemudian ada yang memproyeksikan kenaikan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 6,00%.
Suku bunga deposit facility dan lending facility diperkirakan tetap, masing-masing di level 4,75% dan 6,5%.
Jika BI kembali mempertahankan suku bunga, keputusan tersebut akan menjadi yang ketiga secara beruntun setelah BI Rate ditahan pada RDG Juli dan Agustus. Sebelumnya, BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif sebesar 100 bps sepanjang Mei-Juni 2026, dari 4,75% menjadi 5,75%.
Adapun dari sisi eksternal, pergerakan dolar AS di pasar global masih bertahan di sekitar level terkuatnya dalam dua bulan. Mata uang Negeri Paman Sam mendapat dukungan dari peluang kenaikan suku bunga lanjutan setelah sejumlah pejabat The Fed membuka ruang pengetatan apabila inflasi tidak mereda.
Harga minyak yang mulai turun turut menjadi perhatian pasar. Harga minyak Brent berada di US$99,22 per barel seiring munculnya harapan bahwa pertemuan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dapat membuka jalan menuju penyelesaian perang di Timur Tengah.
Meski harga minyak telah turun dari level tertingginya, ketidakpastian mengenai berakhirnya konflik masih membuat pelaku pasar berhati-hati. Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap diminati dan membatasi ruang penguatan rupiah.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
