Wajah Ekonomi Jambi 2026: Ekonomi Tumbuh, Pengangguran Turun, Tapi UMKM Masih Hadapi Tantangan Daya Beli
- account_circle say say
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Wajah Ekonomi Jambi 2026.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Perekonomian Provinsi Jambi memasuki 2026 dengan sejumlah indikator yang menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan ekonomi meningkat sepanjang 2025, pengangguran menurun, kemiskinan berkurang dan kualitas pembangunan manusia terus membaik.
Namun, di tengah tren positif tersebut, pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) masih menghadapi tantangan. Kenaikan harga barang dan biaya operasional membuat pertumbuhan ekonomi belum tentu langsung terasa dalam bentuk peningkatan omzet setiap pelaku usaha.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Jambi pada 2024 tumbuh 4,51 persen. Angka tersebut kemudian meningkat menjadi 4,93 persen pada 2025. Memasuki 2026, ekonomi masih tumbuh 4,33 persen secara tahunan pada Triwulan I.
Pada Triwulan I 2026, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jambi atas dasar harga berlaku mencapai Rp88,80 triliun. Pertumbuhan tertinggi dari sisi produksi terjadi pada sektor pengadaan listrik dan gas yang mencapai 13,54 persen.
Kinerja tersebut menjadi modal penting bagi dunia usaha. Semakin tinggi aktivitas ekonomi, semakin besar pula peluang terjadinya transaksi di sektor perdagangan, kuliner, jasa, transportasi dan usaha rumah tangga.
Inflasi Provinsi Jambi pada Juni 2026 tercatat 3,85 persen secara tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Muara Bungo sebesar 4,72 persen, sedangkan Kota Jambi mencapai 3,60 persen. Secara bulanan, Jambi mengalami inflasi 0,52 persen pada Juni 2026.
Kondisi tersebut membuat pelaku UMKM harus menghadapi dua sisi sekaligus. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi membuka peluang pasar. Namun di sisi lain, kenaikan harga bahan baku dan kebutuhan rumah tangga dapat membuat konsumen lebih selektif membelanjakan uangnya.
Bagi usaha kuliner misalnya, kenaikan harga bahan pangan dapat meningkatkan biaya produksi. Jika harga jual dinaikkan, konsumen berpotensi mengurangi pembelian. Jika harga ditahan, margin keuntungan pelaku usaha bisa tertekan. Karena itu, indikator yang paling terasa bagi UMKM bukan hanya pertumbuhan ekonomi, tetapi juga jumlah pelanggan, frekuensi transaksi dan omzet harian.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Februari 2026 tercatat 3,99 persen, turun 0,50 persen poin dibandingkan Februari 2025. Jumlah angkatan kerja pada Februari 2026 mencapai 1,87 juta orang, sementara penduduk yang bekerja sebanyak 1,80 juta orang.
Menariknya, sektor penyediaan akomodasi dan makan minum mencatat peningkatan jumlah pekerja sebesar 19,38 ribu orang. Sektor ini memiliki hubungan langsung dengan aktivitas UMKM, terutama usaha kuliner, kedai, restoran, penginapan dan usaha jasa pendukung pariwisata.
Sementara data Agustus 2025 menunjukkan TPAK Jambi berada pada 68,37 persen. Struktur pekerjaan masih didominasi pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 43,36 persen. Sebanyak 57,27 persen pekerja berada di sektor informal. Besarnya sektor informal menunjukkan UMKM dan usaha mandiri masih menjadi bagian penting dalam menopang mata pencaharian masyarakat Jambi.
Pada Maret 2024, persentase penduduk miskin Jambi tercatat 7,10 persen. Pada Maret 2025 angkanya menjadi 7,19 persen, sebelum kembali turun menjadi 6,89 persen pada September 2025.
Angka September 2025 tersebut turun 0,37 persen poin dibandingkan September 2024. Penurunan kemiskinan merupakan sinyal positif bagi perekonomian daerah karena menunjukkan semakin banyak masyarakat yang berada di atas garis kemiskinan.
Namun, bagi UMKM, tantangannya adalah bagaimana peningkatan kondisi sosial tersebut diterjemahkan menjadi peningkatan konsumsi. Ketika daya beli membaik, masyarakat memiliki ruang lebih besar untuk berbelanja makanan, pakaian, jasa, kebutuhan rumah tangga maupun produk lokal.
IPM Jambi meningkat dari 74,36 pada 2024 menjadi 75,13 pada 2025. BPS menyebut angka tersebut naik 0,77 poin atau 1,04 persen dan menempatkan Jambi dalam kategori pembangunan manusia tinggi.
Kenaikan IPM juga terlihat dari sejumlah komponennya. Usia harapan hidup meningkat, begitu pula harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah. Pengeluaran riil per kapita yang disesuaikan juga mengalami peningkatan.
Peningkatan kualitas manusia penting bagi dunia usaha karena tenaga kerja dengan pendidikan dan keterampilan lebih baik memiliki peluang produktivitas yang lebih tinggi. Data BPS yang sudah dirilis sepanjang 2026 menunjukkan fondasi ekonomi Jambi masih cukup kuat. Pertumbuhan ekonomi Triwulan I mencapai 4,33 persen, TPT Februari turun menjadi 3,99 persen, sementara inflasi Juni berada di 3,85 persen.
Sementara itu, indikator kemiskinan dan IPM terbaru yang tersedia pada 2026 masih menggambarkan kondisi 2025. BPS memang telah menerbitkan berbagai publikasi 2026, tetapi bukan berarti seluruh indikator sosial sudah memiliki angka kondisi 2026.
Dengan demikian, wajah ekonomi Jambi 2026 bisa dikatakan berada dalam fase pertumbuhan dengan tantangan daya beli.
Ekonomi tumbuh, pengangguran menurun dan pembangunan manusia membaik. Pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan pertumbuhan tersebut benar-benar terasa di tingkat masyarakat.
Bagi UMKM, ukuran keberhasilannya sederhana: toko semakin ramai, pelanggan bertambah, transaksi meningkat dan omzet naik.
Jika pertumbuhan ekonomi Jambi mampu mendorong konsumsi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga, maka 2026 berpeluang menjadi tahun yang lebih baik bagi pelaku UMKM. Sebaliknya, jika tekanan biaya terus meningkat sementara daya beli tertahan, pertumbuhan ekonomi belum tentu otomatis membuat omzet UMKM ikut melesat.
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi.
- Penulis: say say
