Dari Batok Kelapa Jadi Cuan, Warga Binaan Lapas Muara Sabak Ekspor Arang ke Asia
- account_circle say say
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Produksi arang dari batok kelapa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Batok kelapa yang biasanya dianggap sebagai limbah ternyata bisa mendatangkan cuan. Di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Narkotika Muara Sabak, Jambi, tempurung kelapa diolah menjadi arang hingga berhasil menembus pasar ekspor.
Untuk pertama kalinya, Lapas Narkotika Muara Sabak melepas 6,8 ton arang tempurung kelapa hasil produksi warga binaan. Produk tersebut selanjutnya akan dikirim ke sejumlah negara di Asia, seperti India, Bangladesh, Arab Saudi, dan China. Kasubsi Kegiatan Kerja Lapas Narkotika Muara Sabak, Hendra Turnip, mengatakan produksi arang tersebut melibatkan sembilan warga binaan.
“Hari ini kita melepas arang tempurung hasil pengolahan yang dilakukan warga binaan dan petugas lapas,” kata Hendra di Muara Sabak, Senin.
Untuk tahap awal, proses pengiriman dilakukan melalui perusahaan penampung asal Jakarta. Arang yang sudah selesai diproduksi akan dijemput dari Muara Sabak, kemudian dibawa ke Jakarta sebelum dikirim ke negara tujuan.
Program ini berawal dari ide memanfaatkan potensi perkebunan kelapa yang cukup melimpah di wilayah tersebut. Kepala Lapas Narkotika Kelas IIB Muara Sabak Muhammad Askari Utomo mengatakan tempurung kelapa dipilih karena mudah diperoleh dan memiliki nilai ekonomi jika diolah dengan baik.
Menariknya, bahan baku arang berasal dari keluarga warga binaan. Pihak lapas kemudian membantu proses pembakaran dan membuka akses pasar untuk produk tersebut.
Saat ini, harga arang tempurung kelapa di tingkat perusahaan penampung mencapai sekitar Rp11 ribu per kilogram. Dengan produksi 6,8 ton, nilai penjualan kotor dari ekspor perdana ini mencapai sekitar Rp74,8 juta.
Hasil penjualan nantinya tidak hanya menjadi pemasukan kegiatan produksi. Keuntungan akan dikembalikan kepada keluarga warga binaan setelah dikurangi biaya produksi, premi bagi pekerja, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).
“Keuntungan kita kembalikan ke keluarga warga binaan. Jadi kegiatan ini sepenuhnya untuk kesejahteraan keluarga warga binaan,” ujar Askari.
Program tersebut menjadi contoh bahwa pembinaan di dalam lapas tak melulu soal keterampilan. Dengan pengelolaan yang tepat, limbah tempurung kelapa pun bisa diubah menjadi produk bernilai ekonomi dan membuka peluang warga binaan untuk tetap produktif.
- Penulis: say say
