Rupiah Tancap Gas! Tembus Rp17.911 per Dolar AS di Awal Perdagangan
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Pertukaran mata uang Indonesia ke dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah kembali bergairah. Mengawali perdagangan Kamis (6/8/2026), mata uang Indonesia dibuka menguat ke zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Mengutip Antara, rupiah menguat 22 poin atau 0,12 persen menjadi Rp17.911 per dolar AS. Posisi tersebut lebih baik dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp17.933 per dolar AS.
Sementara itu, indeks dolar AS terpantau melemah tipis 0,01 persen ke posisi 99,669. Greenback tertekan seiring melandainya ekspektasi inflasi AS, yang didukung oleh penurunan harga minyak dunia.
Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong menyatakan rupiah menguat seiring optimisme Selat Hormuz akan dibuka kembali.
“Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS di tengah penurunan harga minyak mentah dunia akibat meningkatnya optimisme bahwa Selat Hormuz akan segera dibuka kembali. Sejak Senin (3/8), harga minyak WTI (West Texas Intermediate) yang minggu lalu ditutup di level 86 dolar AS per barel, sekarang sudah berada di 74,60 dolar AS per barel,” ucapnya.
Mengutip Anadolu, Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent mengatakan AS dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal komersial pada Selasa atau Rabu (5/8) waktu setempat.
Terkait pemberian izin bagi Iran untuk menarik tarif tol di jalur perairan tersebut, Bessent mengatakan perjanjian itu akan menjamin kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Sebelumnya, AS telah meminta Iran menjamin kebebasan navigasi di jalur perairan strategis itu, sementara Iran menegaskan bahwa pelayaran di perairan lepas pantainya harus berada di bawah pengawasan Iran.
Melihat sentimen domestik, data Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II-2026 Indonesia yang lebih kuat dari perkiraan juga disebut akan mendukung rupiah.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen (year on year/yoy) pada triwulan II 2026, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) mencapai Rp3.576,2 triliun, meningkat dari Rp3.396,6 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pelaku pasar sebelumnya berekspektasi pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh 5,1 persen.
“PDB kuartal II yang lebih kuat tidak mengartikan akan kembali kuat ke depannya. Namun, apabila harga minyak turun terus, ini akan meredakan tekanan pada fiskal dan rupiah, dan bisa mendukung pertumbuhan ke depannya,” kata Lukman.
Berdasarkan faktor-faktor tersebut, rupiah diprediksi berkisar Rp17.850-Rp18 ribu per dolar AS.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
