Karhutla Mengintai, Dampaknya Bukan Cuma Kabut Asap
- account_circle say say
- calendar_month 3 jam yang lalu
- print Cetak

Dari sisi ekonomi, kerugian karhutla tidak kalah besar. Kebakaran dapat merusak lahan pertanian dan perkebunan sehingga mengganggu produksi. Pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian juga berpotensi menurun.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi ancaman serius setiap kali musim kemarau berlangsung. Bencana ini bukan hanya persoalan api yang membakar kawasan hutan dan lahan, tetapi juga dapat memicu dampak berantai terhadap lingkungan, kesehatan, aktivitas sosial hingga perekonomian masyarakat.
Karhutla umumnya dipicu oleh aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara dibakar, kelalaian, serta kondisi cuaca panas dan kering yang membuat lahan lebih mudah terbakar. Di sejumlah wilayah, kebakaran juga dapat meluas dengan cepat ketika kondisi angin mendukung.
Dampak paling besar dirasakan lingkungan. Kebakaran dapat menghancurkan vegetasi dan habitat berbagai satwa liar. Ekosistem yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk terbentuk bisa rusak dalam waktu singkat.
Kondisi tersebut menjadi semakin serius ketika kebakaran terjadi di lahan gambut. Kawasan gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar. Saat terbakar, karbon yang tersimpan dapat dilepaskan ke atmosfer dan meningkatkan emisi gas rumah kaca.
Selain kerusakan lingkungan, karhutla juga membawa ancaman langsung terhadap kesehatan masyarakat.
Asap hasil pembakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan. Paparan asap juga dapat menyebabkan iritasi pada mata dan kulit.
Kelompok rentan seperti bayi, anak-anak, lansia serta masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Dampak karhutla juga merembet ke aktivitas sehari-hari. Sekolah dapat terpaksa membatasi kegiatan luar ruangan atau meliburkan kegiatan belajar ketika kabut asap mencapai kondisi yang membahayakan.
Mobilitas masyarakat turut terganggu. Jarak pandang yang rendah akibat asap dapat memengaruhi transportasi darat, laut maupun udara.
Dari sisi ekonomi, kerugian karhutla tidak kalah besar. Kebakaran dapat merusak lahan pertanian dan perkebunan sehingga mengganggu produksi. Pendapatan masyarakat yang bergantung pada sektor pertanian juga berpotensi menurun.
Pelaku usaha, khususnya UMKM dan sektor informal, dapat ikut terdampak karena aktivitas masyarakat menurun selama kondisi udara memburuk.
Pada 2015, Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonomi Indonesia akibat kebakaran hutan dan lahan mencapai lebih dari US$16 miliar. Angka tersebut menunjukkan bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga persoalan ekonomi.
Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dilakukan ketika api sudah muncul. Pencegahan harus diperkuat melalui deteksi dini, pengawasan kawasan rawan kebakaran, edukasi masyarakat serta penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran.
Pemerintah, perusahaan dan masyarakat memiliki peran yang sama penting dalam mencegah kebakaran.
Jika pencegahan tidak dilakukan secara konsisten, karhutla akan terus menjadi ancaman tahunan. Bukan hanya hutan yang terbakar, tetapi juga kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi dan keberlanjutan lingkungan yang ikut dipertaruhkan.
- Penulis: say say
