Rupiah Makin Tertekan, Dolar AS Tembus Rp17.730
- account_circle -
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Uang pecahan dolar AS.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Rupiah kembali tak berkutik di hadapan dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Indonesia kembali melemah pada pembukaan perdagangan Rabu (16/9/2026), menandakan tekanan terhadap rupiah belum mereda.
Mengutip Antara, rupiah dibuka di level Rp17.730 per dolar AS. Posisi tersebut melemah 36 poin atau 0,20 persen dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.694 per dolar AS.
Pelemahan tersebut terjadi ketika dolar AS justru kembali mendapatkan tenaga. Indeks dolar AS tercatat menguat 0,12 persen ke posisi 99,730.
Kenaikan indeks dolar tersebut melanjutkan penguatan pada perdagangan sebelumnya sebesar 0,23 persen.
Pergerakan rupiah sepanjang hari ini diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh sentimen eksternal, khususnya penantian pasar terhadap keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
The Fed menggelar rapat kebijakan pada 15-16 September 2026. Keputusan suku bunga tersebut akan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia.
Menjelang pengumuman tersebut, dolar AS mempertahankan penguatan dan berada di sekitar level tertinggi dalam beberapa pekan terhadap sejumlah mata uang utama. Kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memberikan tenaga kepada greenback.
Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Berdasarkan perhitungan pasar, peluang kenaikan tersebut telah mencapai sekitar 90 persen.
“Kenaikan 25 basis poin telah diperhitungkan sekitar 90 persen, sehingga dolar hanya akan mendapat dorongan moderat jika The Fed menaikkan bunga,” ujar Currency Strategist Commonwealth Bank of Australia Carol Kong, dikutip dari Reuters.
Jika terealisasi, keputusan tersebut akan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam lebih dari dua tahun. Pasar juga mulai memperhitungkan kemungkinan adanya kenaikan lanjutan untuk menahan tekanan inflasi akibat perang dengan Iran dan lonjakan harga energi.
Meski demikian, arah dolar tidak hanya ditentukan oleh keputusan suku bunga. Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai langkah kebijakan berikutnya juga akan menjadi perhatian utama.
Apabila The Fed menaikkan suku bunga tetapi Warsh meredam peluang kenaikan lanjutan, dolar berpotensi kehilangan sebagian tenaganya. Sebaliknya, sinyal bahwa suku bunga masih akan dinaikkan kembali dapat mempertahankan penguatan greenback.
Pasar juga menghadapi kemungkinan kecil The Fed mempertahankan suku bunga. Menurut Kong, keputusan tersebut dapat memicu penurunan dolar lebih dari 1% karena berlawanan dengan perkiraan mayoritas pelaku pasar.
Penguatan dolar dan tingginya imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar. Kondisi tersebut berpotensi menjaga tekanan terhadap mata uang Garuda menjelang pengumuman kebijakan The Fed.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
