Sampah Jadi Cuan, Bank Sampah Dayung Habibah Bikin Nasabah Mekaar Berdaya
- account_circle -
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

ILUSTRASI: Bank sampah yang dikelola kelompok masyarakat. (F: Ist)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Sampah yang selama ini identik dengan barang tak bernilai, kini justru menjadi sumber tabungan dan membantu pembayaran angsuran. PT Permodalan Nasional Madani (PNM) Cabang Jambi mendorong nasabah Mekaar Kelompok Bank Sampah Dayung Habibah di Kelurahan Legok, Kecamatan Danau Sipin, untuk mengubah sampah menjadi sumber ekonomi.
Tak hanya membina pengelolaan bank sampah, PNM Jambi juga memberikan bantuan mobil operasional pengangkut sampah serta mendorong pengembangan budidaya jamur. Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan nasabah agar memiliki sumber penghasilan yang lebih beragam.
Pimpinan Cabang PNM Jambi Erwin Sapriadi mengatakan, program pemberdayaan itu terlaksana melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, akademisi hingga Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kami sangat berterima kasih atas dukungan pemerintah, akademisi, dan OJK. Kehadiran PNM tidak hanya untuk memberikan pembiayaan, tetapi juga pemberdayaan. Ini adalah bentuk nyata dari komitmen yang sudah kami jalankan,” ujar Erwin, Rabu (16/9/2026).
Menurut dia, setiap program pemberdayaan yang dijalankan PNM disesuaikan dengan potensi yang dimiliki daerah. Tujuannya agar program tersebut benar-benar tepat sasaran dan mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat.
Salah satu program yang kini berkembang di Kota Jambi adalah pemanfaatan sampah menjadi tabungan bernilai ekonomis. Hingga saat ini, sebanyak 150 nasabah telah bergabung dalam program menabung sampah.
Hasil dari pengelolaan sampah itu tidak hanya menjadi tabungan. Nasabah bahkan dapat memanfaatkannya untuk membantu membayar angsuran.
“Sampah yang tadinya tidak bernilai kini memiliki nilai ekonomi. Hasil tabungan sampah ini bahkan bisa digunakan nasabah untuk membayar angsuran, sehingga sangat memudahkan mereka. Selain itu, kami juga mendorong budidaya jamur untuk menambah penghasilan nasabah Mekaar,” jelasnya.
Ketua Kelompok Dayung Habibah, Leni Haini, mengatakan perjalanan kelompok tersebut dimulai sejak dirinya bergabung dengan PNM pada 2018. Saat itu, jumlah anggota masih sekitar 25 orang.
Namun, seiring berjalannya waktu, jumlah anggota terus bertambah hingga kini mencapai 150 orang.
Menurut Leni, program pembiayaan dan pemberdayaan tersebut sangat membantu masyarakat, khususnya kelompok yang sebelumnya mengalami keterbatasan akses permodalan. Melalui pengelolaan sampah, anggota kelompok kini memiliki tambahan sumber ekonomi sekaligus dapat saling menopang dalam memenuhi kewajiban pembayaran angsuran.
Setelah pengolahan sampah berkembang, kelompok Dayung Habibah kini mulai membuka peluang usaha baru melalui budidaya jamur.
Budidaya tersebut tidak berhenti pada penjualan jamur mentah. Kelompok itu juga tengah mengembangkan berbagai produk turunan bernilai jual.
“Masyarakat seperti kami sekarang bisa bersama-sama dan saling membantu untuk pembayaran angsuran. Kami juga tengah mengembangkan budidaya jamur,” kata Leni.
Pengembangan budidaya jamur tersebut mendapat dukungan dari Universitas Jambi (Unja). Ketua Kegiatan Pengabdian Masyarakat Unja, Fathnur Sani K, mengatakan program itu diawali melalui pendanaan dari Kementerian Pertanian.
Tak hanya fokus pada proses budidaya, tim pengabdian juga mendorong hilirisasi agar hasil panen memiliki nilai tambah lebih tinggi.
Masyarakat dibekali keterampilan untuk mengolah jamur menjadi berbagai produk siap jual, seperti bakso jamur, nugget, hingga jamur krispi.
“Kami juga membuat produk olahan dalam bentuk bakso, nugget, dan jamur krispi. Harapannya, masyarakat tidak hanya menghasilkan jamur mentah saja, tetapi juga mampu memproduksi produk turunan yang bisa dijual kembali,” jelas Fathnur.
Sementara itu, Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Jambi Mulyadi menilai bantuan satu unit mobil operasional pengangkut sampah dari PNM sejalan dengan upaya pemerintah daerah menciptakan lingkungan yang bersih sekaligus membangun ekonomi berbasis masyarakat.
Menurut dia, pengelolaan sampah tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan. Jika dikelola secara terintegrasi, sampah juga dapat berubah menjadi sumber pendapatan.
Apalagi, hasil dari bank sampah telah membantu sebagian warga memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga membayar angsuran.
“Ini inovasi menjaga kebersihan dan menciptakan ketahanan pangan daerah. Program ini baik, solusi yang bernilai ekonomi,” ujar Mulyadi.
Melalui kolaborasi antara PNM, pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan masyarakat, bank sampah serta budidaya jamur diharapkan terus berkembang. Dari sampah yang sebelumnya terbuang hingga jamur yang diolah menjadi produk siap jual, keduanya kini membuka jalan baru bagi nasabah Mekaar untuk memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.(*)
- Penulis: -
- Editor: Darmanto Zebua
