Penduduk Jambi Bertambah Lebih Lambat, Bisnis Perlu Membaca Siapa Konsumennya
- account_circle say say
- calendar_month 5 jam yang lalu
- print Cetak

BPS mencatat rata-rata pertumbuhan penduduk Provinsi Jambi dalam lima tahun terakhir sebesar 1,27 persen per tahun.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Jumlah penduduk masih menjadi salah satu indikator yang sering digunakan ketika menentukan lokasi usaha. Namun, perubahan struktur penduduk membuat angka populasi saja tidak cukup untuk membaca potensi pasar. BPS mencatat rata-rata pertumbuhan penduduk Provinsi Jambi dalam lima tahun terakhir sebesar 1,27 persen per tahun. Pada 2025, rasio ketergantungan mencapai 45,24 persen dan proporsi penduduk lanjut usia telah mencapai 9,96 persen.
Perubahan demografi tersebut ikut memengaruhi cara pelaku usaha membaca pasar. Konsep Read the People dalam Location Intelligence menempatkan konsumen sebagai pusat analisis. Bukan hanya berapa banyak orang yang berada di sebuah kawasan, tetapi juga siapa mereka, bagaimana aktivitasnya dan kebutuhan apa yang muncul dari aktivitas tersebut.
Kawasan dengan dominasi pekerja kantoran, misalnya, memiliki pola kebutuhan berbeda dengan kawasan yang mayoritas dihuni keluarga. Begitu pula kawasan dekat sekolah, rumah sakit, kampus maupun pusat perdagangan.
Dari sisi ketenagakerjaan, Bank Indonesia mencatat jumlah penduduk bekerja di Jambi mencapai sekitar 1,80 juta orang pada Februari 2026. Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 3,99 persen dari 4,48 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Data tersebut menjadi salah satu gambaran mengenai aktivitas masyarakat, meskipun tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya ukuran daya beli.
Bagi pengusaha, perubahan ini membuat pemilihan lokasi semakin membutuhkan pemetaan konsumen.
Misalnya, bisnis yang menyasar keluarga perlu memperhatikan keberadaan perumahan dan fasilitas pendidikan. Sementara bisnis yang menyasar pekerja dapat mempertimbangkan kedekatan dengan kawasan perkantoran serta pola perjalanan harian.
Dengan demikian, lokasi bukan hanya persoalan berapa banyak orang yang tinggal di sekitar bisnis. Yang lebih penting adalah siapa mereka dan aktivitas apa yang mereka lakukan.
Perubahan demografi Jambi juga membuat kebutuhan bisnis terhadap data konsumen semakin besar. Apalagi BPS pada 2026 tengah menjalankan Sensus Ekonomi untuk menghasilkan basis data aktivitas ekonomi yang lebih lengkap.
Bagi pelaku usaha, data tersebut dapat menjadi bagian dari cara baru membaca pasar: bukan sekadar menghitung jumlah orang, tetapi memahami manusia di balik angka tersebut.
- Penulis: say say
