Perdagangan Karbon Angkat Kopi Pelosok Jambi ke Panggung Dunia
- account_circle say say
- calendar_month 40 menit yang lalu
- print Cetak

erdagangan karbon membuka peluang baru bagi petani kopi di Kabupaten Bungo, Jambi. Berkat dana karbon, Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Agam Maju Bersama berhasil mengembangkan Kopi Delapan hingga menembus pasar internasional, bahkan diperkenalkan di Belanda dan Thailand. Simak kisah inspiratif bagaimana menjaga hutan mampu meningkatkan ekonomi masyarakat, memperkuat kualitas kopi lokal, sekaligus membawa nama Jambi ke panggung dunia.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Siapa sangka, secangkir kopi robusta yang lahir dari pelosok hutan di Kabupaten Bungo, Jambi, kini mampu menembus pasar internasional. Berbekal semangat menjaga hutan dan dukungan dari perdagangan karbon, Kopi Delapan kini menjadi bukti bahwa konservasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Kopi tersebut diproduksi oleh Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS) Agam Maju Bersama yang berada di Desa Laman Panjang, Kecamatan Bathin III Ulu, Kabupaten Bungo.
Nama Kopi Delapan diambil dari identitas desa asalnya, Laman Panjang, yang dalam dialek setempat dikenal dengan sebutan “Delapan”. Dari rumah produksi sederhana berbahan kayu di tengah kawasan hutan itulah, para petani mengolah biji kopi robusta menjadi produk siap seduh yang kini mulai dikenal hingga mancanegara.
Kelompok Agam Maju Bersama dibentuk pada 2019. Saat itu para petani menyadari hasil panen kopi mereka hanya dijual dalam bentuk biji kepada tengkulak sehingga nilai tambah yang diterima masih sangat kecil.
Melihat kondisi tersebut, para petani mulai belajar mengolah kopi menjadi produk bernilai jual lebih tinggi. Meski kelompok telah berdiri sejak 2019, aktivitas produksi secara intensif baru berjalan pada 2023.
Kini hampir seluruh proses dilakukan secara mandiri, mulai dari pembibitan, penanaman, perawatan kebun, panen, pengolahan biji kopi, pengemasan hingga pemasaran.
Dalam setiap proses produksi, kelompok mampu mengolah sekitar 20 kilogram kopi, dengan jadwal produksi sekitar dua kali setiap bulan.
Pada tahun pertama produksi, omzet kotor usaha tersebut telah mencapai sekitar Rp21 juta.
Perlahan tetapi pasti, Kopi Delapan mulai menemukan pasarnya. Selain dipasarkan di wilayah Kecamatan Bathin III Ulu dan Kabupaten Bungo, kopi tersebut kini telah dipasarkan ke berbagai daerah di luar Provinsi Jambi.
Bahkan produk mereka pernah dikirim ke Bangkok, Thailand, meski dalam jumlah terbatas.
Pencapaian yang lebih membanggakan datang ketika salah satu anggota kelompok, Neti, mendapat kesempatan mewakili Indonesia dalam program kerja sama bersama International Union for Conservation of Nature (IUCN).
Ia menjadi satu-satunya perwakilan perempuan dari Indonesia yang diundang mengikuti kegiatan selama dua pekan di Belanda.
Di Negeri Kincir Angin tersebut, Neti memperkenalkan Kopi Delapan sekaligus menceritakan bagaimana masyarakat Desa Laman Panjang menjaga kawasan hutan yang menjadi sumber kehidupan mereka.
Selama berada di Belanda, ia mengunjungi berbagai institusi penting seperti kantor pemerintahan, Uni Eropa, Kementerian Luar Negeri Belanda hingga Kedutaan Besar Republik Indonesia.
Menurut Neti, masyarakat Eropa memberikan apresiasi tinggi terhadap upaya masyarakat adat dan desa dalam menjaga kelestarian hutan.
Pengalaman tersebut menjadi kebanggaan tersendiri karena hasil kerja masyarakat desa ternyata mendapat perhatian dunia internasional.
Di balik berkembangnya Kopi Delapan, terdapat peran penting dari perdagangan karbon. Sebagian dana yang diperoleh dari skema perdagangan karbon dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas usaha kelompok tani.
Melalui dukungan tersebut, para petani mendapat pelatihan budidaya kopi di kawasan Jangkat, Kabupaten Merangin, yang dikenal sebagai salah satu sentra kopi terbaik di Provinsi Jambi.
Mereka belajar mengenai teknik pemilihan bibit unggul, pemangkasan tanaman, perawatan kebun hingga proses pascapanen agar menghasilkan kopi berkualitas tinggi.
Selain itu, para petani juga mendapatkan pendampingan dalam mengoperasikan mesin pengolahan kopi yang diberikan pemerintah daerah.
Pelatihan tersebut membuat kualitas produksi meningkat sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Keberhasilan Kopi Delapan menjadi contoh nyata bahwa menjaga hutan tidak hanya memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga mampu meningkatkan perekonomian masyarakat desa.
Melalui skema perdagangan karbon, masyarakat memperoleh insentif untuk tetap mempertahankan tutupan hutan sekaligus mengembangkan usaha produktif berbasis hasil hutan bukan kayu.
Indonesia sendiri memiliki potensi perdagangan karbon sektor kehutanan yang sangat besar. Pemerintah memperkirakan potensi karbon dari kawasan hutan nasional mencapai sekitar 13,4 miliar ton setara karbon dioksida (CO₂e) hingga tahun 2050.
Untuk memperkuat tata kelola pasar karbon, pemerintah juga telah menerbitkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 tentang Tata Cara Perdagangan Karbon Melalui Offset Emisi Gas Rumah Kaca Sektor Kehutanan.
Regulasi tersebut diharapkan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat, pelaku usaha, maupun investor dalam mengembangkan perdagangan karbon di Indonesia.
Selain itu, pemerintah juga meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) guna meningkatkan transparansi, akuntabilitas, dan keterlacakan transaksi karbon nasional.
Keberhasilan Kopi Delapan menunjukkan bahwa produk lokal dari pelosok desa memiliki peluang besar untuk bersaing di pasar internasional apabila didukung kualitas produk, pendampingan yang tepat, serta pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Bagi Provinsi Jambi yang memiliki banyak sentra kopi seperti Kerinci, Merangin, Bungo hingga Tebo, model pengembangan seperti yang dilakukan KUPS Agam Maju Bersama dapat menjadi inspirasi bagi kelompok tani lainnya.
Dengan menjaga hutan, meningkatkan kualitas produksi, dan memanfaatkan peluang perdagangan karbon, kopi Jambi bukan hanya mampu meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen kopi berkualitas di pasar dunia.
- Penulis: say say

