Minggu, 27 Sep 2026
light_mode
Beranda » Nasional » Kebutuhan Aluminium RI Diproyeksi Melonjak 600%, Inalum Percepat Hilirisasi Bauksit

Kebutuhan Aluminium RI Diproyeksi Melonjak 600%, Inalum Percepat Hilirisasi Bauksit

  • account_circle syaiful amri
  • calendar_month Senin, 17 Nov 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAMBISNIS.COM – PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mempercepat langkah hilirisasi bauksit menjadi alumina dan aluminium guna memenuhi lonjakan kebutuhan nasional yang diproyeksi meningkat hingga 600 persen dalam 30 tahun mendatang. Kenaikan konsumsi aluminium di Indonesia terutama didorong oleh perkembangan pesat sektor kendaraan listrik (electric vehicle/EV), industri baterai, serta proyek energi baru terbarukan (EBT) yang membutuhkan pasokan aluminium dalam jumlah besar.

Direktur Pengembangan Usaha Inalum, Arif Haendra, mengatakan Indonesia berada di momentum strategis untuk memperkuat industri aluminium nasional yang terintegrasi dari hulu sampai hilir.

“Sejak 2018 hingga 2024, ketergantungan terhadap impor aluminium masih 54 persen, sementara kontribusi Inalum baru 46 persen. Padahal aluminium adalah bahan baku strategis untuk industri masa depan,” ujar Arif, dikutip Minggu (16/11/2025).

Arif menjelaskan konsumsi aluminium nasional akan melonjak drastis, terutama karena:

  • Baterai kendaraan listrik (EV): satu battery pack EV menggunakan sekitar 18% aluminium.
  • Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS): membutuhkan sekitar 21 ton aluminium untuk setiap 1 MW pembangunan.

“Ini menjelaskan urgensi percepatan hilirisasi,” kata Arif.

Menurut Arif, hilirisasi bauksit bukan sekadar program industri, tetapi langkah penting untuk menjaga ketahanan bahan baku nasional. Karena itu, Inalum menempatkan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) tahap 1 dan tahap 2 sebagai agenda prioritas perusahaan.

Untuk memproduksi 1 ton aluminium, dibutuhkan:

  • 6 ton bauksit
  • Menjadi 2 ton alumina
  • Melalui proses elektrolisis di smelter menjadi aluminium siap pakai

“Investasi hulu dan hilir harus berjalan paralel karena rantai produksinya sangat terintegrasi,” jelas Arif.

Saat ini Inalum mengoperasikan:

  • Smelter aluminium primer kapasitas 275.000 ton per tahun
  • Smelter aluminium sekunder 30.000 ton per tahun
  • Pembangkit listrik tenaga air (hydropower) sebesar 603 MW

Untuk memenuhi kebutuhan nasional yang terus melonjak, perusahaan menyiapkan rencana ekspansi besar-besaran, termasuk pembangunan smelter baru dan penambahan potline.

  • Penulis: syaiful amri

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rebound Kuat, Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,85 juta

    Rebound Kuat, Harga Emas Antam Hari Ini Rp2,85 juta

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Setelah mengalami tekanan pada perdagangan kemarin, kini harga emas Antam berbalik arah menguat tajam. Harga emas Antam hari ini, Selasa (7/4/2026), naik Rp19.000 menjadi Rp2.850.000 per gram. Sebelumnya, harga emas Antam pada Senin (6/4/2026) sempat ambrol sebesar Rp26.000 ke level Rp 2.831.000 per gram. Adanya kenaikan yang terjadi ini membuat harga buyback emas […]

  • Rupiah masih Melemah Terhadap Dolar AS

    Rupiah masih Melemah Terhadap Dolar AS

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Nilai tukar rupiah tampaknya belum stabil. Dibuka pada perdagangan hari ini, Selasa (4/11/2025), rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip Antara, rupiah dibuka terdepresiasi 0,25% atau 39 poin ke Rp16.715 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.676 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,11% atau 0,11 poin ke 99,97. Sementara […]

  • HUT ke-130 BRI: Perkenalkan Logo dan Tema Baru ‘Satu Bank Untuk Semua’

    HUT ke-130 BRI: Perkenalkan Logo dan Tema Baru ‘Satu Bank Untuk Semua’

    • calendar_month Minggu, 26 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) merayakan HUT ke-130 dengan tema “Satu Bank Untuk Semua”, menegaskan komitmen BRI untuk melayani seluruh lapisan masyarakat, dari segmen mikro hingga korporasi, dengan dukungan ekosistem digital yang kuat. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menyatakan bahwa usia 130 tahun menjadi bukti ketangguhan dan konsistensi BRI dalam mendukung […]

  • Rupiah Masih di Zona Merah, Ditutup Rp17.839 per Dolar AS

    Rupiah Masih di Zona Merah, Ditutup Rp17.839 per Dolar AS

    • calendar_month Selasa, 2 Jun 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Rupiah belum mampu keluar dari zona merah. Hingga penutupan perdagangan Selasa (2/6/2026), rupiah keok terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah ditutup melemah 34 poin atau 0,19 persen ke posisi Rp17.839 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar terlihat turun 0,1% ke level 99,1. Pelemahan ini memperpanjang tren koreksi […]

  • Jelang Ramadhan 2026, Harga Cabai di Pasar Talang Banjar Jambi Naik hingga 20 Persen

    Jelang Ramadhan 2026, Harga Cabai di Pasar Talang Banjar Jambi Naik hingga 20 Persen

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Sejumlah harga kebutuhan pokok di Pasar Rakyat Talang Banjar, Kota Jambi, terpantau relatif stabil menjelang bulan Ramadhan 2026. Namun, komoditas cabai mulai mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir. Berdasarkan data SIHARKO pada Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperindag) Kota Jambi per 12 Februari 2026, harga cabai merah besar naik 20 persen menjadi Rp 40.000 […]

  • IHSG Anjlok 2,76% ke Level 6.144, Sektor Barang Baku dan Energi Terpukul, BRPT-CUAN-MEDC Jadi Top Losers

    IHSG Anjlok 2,76% ke Level 6.144, Sektor Barang Baku dan Energi Terpukul, BRPT-CUAN-MEDC Jadi Top Losers

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • 0Komentar

    JAMBISNIS.COM – Tekanan terhadap IHSG terjadi merata. Seluruh indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia (BEI) bergerak turun, menandakan pelemahan pasar yang bersifat luas, bukan sektoral semata. Sektor barang baku menjadi yang paling dalam koreksinya dengan penurunan 6,49%. Di belakangnya, sektor energi jatuh 5,02%, diikuti transportasi 4,69% dan barang konsumer non primer 4,11%. Pelemahan juga menjalar […]

expand_less