Sejarah Cakue, Roti Goreng Legendaris dari Tiongkok yang Kini Jadi Jajanan Favorit di Indonesia
- account_circle say say
- calendar_month 2 jam yang lalu
- print Cetak

Para penikmat cakui di Jambi.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Siapa yang tidak kenal cakue? Jajanan berbentuk panjang yang renyah di luar dan lembut di dalam ini sudah puluhan tahun menjadi teman sarapan maupun camilan sore masyarakat Indonesia.
Mulai dari pedagang kaki lima hingga gerai modern, cakue tetap memiliki penggemarnya sendiri. Bahkan, kini banyak inovasi bermunculan dengan isian ayam, abon, keju, sosis hingga cokelat. Meski tampil lebih modern, sejarah panjang cakue ternyata berawal dari sebuah kisah legenda di
Cakue dikenal di Tiongkok dengan nama youtiao atau you tiao. Makanan ini diperkirakan sudah ada sejak masa Dinasti Song (960–1279 M) dan menjadi salah satu menu sarapan paling populer di negeri tersebut.
Menurut berbagai literatur sejarah kuliner Tiongkok, youtiao biasanya disantap bersama bubur nasi (congee), susu kedelai hangat, atau teh. Hingga kini, kebiasaan tersebut masih mudah ditemukan di berbagai kota di Tiongkok, Taiwan, Hong Kong, hingga Singapura.
Namun, di balik kelezatannya, youtiao ternyata menyimpan cerita sejarah yang cukup unik.
Salah satu kisah yang paling dikenal menyebutkan bahwa cakue lahir sebagai simbol kemarahan rakyat terhadap seorang pejabat korup bernama Qin Hui. Kala itu, Jenderal Yue Fei, seorang pahlawan Dinasti Song yang terkenal patriotik, dihukum mati setelah difitnah melakukan pengkhianatan. Banyak masyarakat percaya bahwa Qin Hui menjadi dalang di balik hukuman tersebut.
Sebagai bentuk protes, rakyat kemudian membuat dua potong adonan yang disatukan, melambangkan Qin Hui dan istrinya. Adonan itu kemudian digoreng dalam minyak panas sebagai simbol hukuman kepada pasangan tersebut.
Nama makanan itu konon berasal dari ungkapan “you zha gui”, yang berarti “menggoreng iblis”. Seiring waktu, penyebutannya berubah menjadi youtiao dan berkembang menjadi makanan yang lebih dikenal sebagai roti goreng panjang.
Meski kisah ini lebih banyak dianggap sebagai legenda rakyat daripada fakta sejarah yang pasti, cerita tersebut sangat populer dan terus diwariskan hingga sekarang.
Cakue mulai dikenal di Indonesia melalui para perantau Tionghoa yang datang ke Nusantara sejak ratusan tahun lalu.
Nama cakue sendiri berasal dari dialek Hokkien yang kemudian mengalami penyesuaian pelafalan di Indonesia. Seiring berjalannya waktu, makanan ini tidak lagi hanya dikonsumsi masyarakat Tionghoa, tetapi menjadi bagian dari kuliner Nusantara.
Di berbagai daerah, cakue mengalami adaptasi sesuai selera lokal. Ada yang disajikan dengan saus sambal, saus kacang, saus cuko, mayones, hingga diisi daging ayam, ikan, atau udang.
Di Kota Jambi sendiri, cakue cukup mudah ditemukan di pasar tradisional, pusat jajanan malam, hingga gerai makanan modern. Sekilas membuat cakue tampak sederhana. Bahannya hanya terdiri dari tepung terigu, air, garam, ragi, dan sedikit bahan pengembang. Namun, menghasilkan cakue yang sempurna membutuhkan teknik yang tidak mudah.
Adonan harus diuleni hingga kalis, kemudian didiamkan beberapa jam agar mengembang. Setelah itu adonan dipotong memanjang, disatukan berpasangan, lalu digoreng dalam minyak panas sambil terus dibalik agar mengembang merata.
Hasil akhirnya adalah cakue dengan bagian luar berwarna keemasan dan renyah, sementara bagian dalam tetap berongga dan lembut.
Perkembangan dunia kuliner membuat cakue ikut berevolusi. Jika dahulu hanya berupa roti goreng polos, kini banyak pelaku usaha menghadirkan berbagai varian baru.
Mulai dari cakue isi ayam, daging sapi, abon, tuna, keju mozzarella, sosis, telur, hingga varian manis seperti cokelat dan matcha.
Bahkan beberapa kedai menjadikan cakue sebagai menu kekinian dengan tambahan saus keju, saus pedas Korea, hingga bumbu tabur berbagai rasa.
Meski tampil lebih modern, cita rasa khas cakue tetap dipertahankan sehingga mampu menarik minat berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.
Di era makanan viral dan tren kuliner yang terus berganti, cakue justru menunjukkan daya tahannya sebagai salah satu jajanan legendaris. Harga yang relatif terjangkau, rasa yang gurih, serta fleksibilitas penyajiannya membuat makanan ini tetap diminati masyarakat. Tidak sedikit pelaku UMKM yang menjadikan cakue sebagai peluang usaha karena modalnya relatif kecil tetapi memiliki pasar yang luas.
Lebih dari sekadar jajanan, cakue menjadi bukti bagaimana sebuah makanan dari budaya lain dapat beradaptasi dan menyatu dengan kekayaan kuliner Indonesia tanpa kehilangan identitas sejarahnya.
- Penulis: say say

