Inflasi Jambi Juni 2026 Capai 3,85 Persen, Muara Bungo Tertinggi dan Kota Jambi Terendah
- account_circle say say
- calendar_month 9 jam yang lalu
- print Cetak

Kondisi inflasi yang masih berada di kisaran hampir empat persen menunjukkan daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan, terutama akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus memperkuat pengendalian pasokan dan distribusi pangan agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAMBISNIS.COM – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi mencatat laju inflasi tahunan (year on year/y-on-y) Provinsi Jambi pada Juni 2026 mencapai 3,85 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan menunjukkan harga barang serta jasa di Provinsi Jambi masih mengalami kenaikan secara umum.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik (BRS) BPS Provinsi Jambi, inflasi tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) menjadi 112,48 pada Juni 2026. Selain inflasi tahunan, BPS juga mencatat inflasi bulanan (month to month/m-to-m) sebesar 0,52 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year to date/y-to-d) mencapai 1,79 persen.
Kepala BPS Provinsi Jambi menjelaskan bahwa kenaikan harga masih terjadi pada sebagian besar kelompok pengeluaran masyarakat. Dari sebelas kelompok pengeluaran, sepuluh di antaranya mengalami inflasi, sementara hanya kelompok pakaian dan alas kaki yang mengalami penurunan harga atau deflasi.
Jika dilihat berdasarkan wilayah penghitungan Indeks Harga Konsumen (IHK), Muara Bungo menjadi daerah dengan inflasi tertinggi di Provinsi Jambi, yakni mencapai 4,72 persen. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Kerinci sebesar 4,30 persen, sedangkan Kota Jambi mencatat inflasi terendah sebesar 3,60 persen.
Meski memiliki inflasi tahunan tertinggi, Muara Bungo justru mencatat inflasi bulanan paling rendah, hanya 0,04 persen. Sebaliknya, Kabupaten Kerinci mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,72 persen, sementara Kota Jambi sebesar 0,51 persen. Data tersebut menunjukkan dinamika harga di setiap daerah dipengaruhi kondisi pasokan, distribusi, hingga pola konsumsi masyarakat.
BPS mencatat kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan kenaikan 6,65 persen. Kelompok ini menyumbang 2,10 persen terhadap inflasi tahunan Provinsi Jambi. Selain itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya mengalami inflasi 6,60 persen, disusul Penyediaan Makanan dan Minuman/Restoran sebesar 4,33 persen, Transportasi sebesar 3,93 persen, serta Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga sebesar 2,93 persen.
Sementara itu, kelompok Pakaian dan Alas Kaki menjadi satu-satunya kelompok yang mengalami deflasi atau penurunan harga sebesar 4,06 persen, sehingga sedikit menahan laju inflasi secara keseluruhan.
Kondisi inflasi yang masih berada di kisaran hampir empat persen menunjukkan daya beli masyarakat masih menghadapi tekanan, terutama akibat kenaikan harga kebutuhan pokok. Pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diharapkan terus memperkuat pengendalian pasokan dan distribusi pangan agar kenaikan harga tidak semakin membebani masyarakat.
- Penulis: say say

